South Jakarta – Djo , proyek musik dari aktor, produser, dan penulis lagu Joe Keery yang dikenal lewat mengizinkan di ‘Strangers Things’ dan ‘Fargo’ , akhirnya merilis album barunya ‘The Crux’ hari Jumat lalu lewat AWAL Recordings.
Sebelum perilisan album ‘The Crux’ , Djo sempat membagikan lagu “Potion” yang menjadi focus track album ‘The Crux’ saat akhirnya dirilis. Jika dibandingkan dengan dua single yang sempat ia rilis sebelumnya yaitu “Basic Being Basic” dan “Delete Ya” , lagu “Potion” menjadi momen Djo menunjukkan sisi lain dari album barunya. Lagu ini juga memperkenalkan pendengarnya pada kehangatan sebuah tempat di Los Angeles bernama Laurel Canyon.
“Lagu ‘Potion’ seperti celana jeans biru favorit kita,” ujar Djo yang bernama asli Joe Keery. “Saya sempat mempelajari teknik Travis memetik saat saya menulis lagu ini, hasilnya seperti kalau Harry Nilsson dan Lindsey Buckingham mempunyai anak bersama.”
Djo merekam sebagian besar lagu-lagu di album ‘The Crux’ seorang diri, termasuk lagu “Potion” . Diwarnai permainan gitar akustik dan vokal falsetto Djo, di lagu “Potion” Djo bernyanyi, memainkan gitar akustik dan elektrik, bass, drum, perkusi, dan Mellotron. Hasilnya adalah ritme serba santai dengan suara yang kaya dan penuh emosi. Para pendengarnya pun diundang untuk hilang dalam kehangatan musik yang dibawakan Djo, lengkap dengan perasaan penuh pengharapan yang lagu ini pancarkan.
Diproduksi oleh Djo dan rekan kolaboratornya, Adam Thein , album ‘The Crux’ menyajikan permainan gitar yang lembut dan instrumentasi yang mengingatkan kita akan musik pop dekade 1960-an dan 1970-an. Ruang musik yang Djo ciptakan di ‘The Crux’ terdengar kontras dengan album-album Djo sebelumnya yang lebih menonjolkan nuansa bed pop yang kental dengan permainan synthesizer. ‘The Crux’ bukan hanya album tentang kehilangan dan pengharapan, namun juga album memuat komedi dan rasa syukur.
Di Indonesia, lagu “End of Beginning” duduk di posisi #2 dalam daftar Indonesia Top International Song of 2024 . Secara global, “End of Beginning” menduduki posisi #1 di chart Global Spotify dan menjadi lagu nomor #6 paling sering dimainkan sepanjang 2024 dengan total 1.5 MILIAR stream di berbagai platform dan mendapatkan lebih dari 60 MILIAR view di TikTok. Selain itu, “End of Beginning” berhasil memasuki chart resmi di 41 negara dan tersertifikasi Platinum dan Gold di 17 wilayah .
“End of Beginning” trending sepanjang tahun 2024 di Indonesia. Terbukti dengan pencapaiannya di posisi #1 chart Top 50 – Indonesia dan Viral 50 – Indonesia . Single tersebut juga merajai chart Shazam di Indonesia dan sukses duduk di posisi #9 dalam kategori Top 10 TikTok Songs 2024 Indonesia . Dengan lebih dari 2 MILIAR stream dan 9.5 JUTA pendengar bulanan dari Asia , Djo semakin menunjukkan dominasinya, termasuk di Indonesia yang saat ini ada di posisi #2 dalam daftar Top Streaming Market-nya secara global. Sementara itu, Jakarta duduk di posisi #1 dalam daftar Top Cities-nya secara global.
Djo baru-baru ini memulai tur globalnya bertajuk Back On You World Tour 2025 di Laneway Festival di Australia dan Selandia. Ia akan melanjutkan turnya pada April 2025 dengan Post Animal sebagai musisi pembuka dan akan mengunjungi Amerika Utara, Inggris, dan Eropa. Djo juga menggelar menggebrak panggung festival musik Coachella Valley & Music & Arts Festival bulan April mendatang.

Daftar lagu ‘The Crux’:
1. Lonesome Is A State of Mind
2. Basic Being Basic
3. Link
4. Potion
5. Delete Ya
6. Egg
7. Fly
8. Charlie’s Garden
9. Gap Tooth Smile
10. Golden Line
11. Back On You
12. Crux
Tentang Djo & ‘The Crux’ (2025)
Meski lebih dikenal lewat karyanya di dunia seni peran, Joe Keery adalah seorang senimanbserba bisa yang mulai menulis lagu saat masih remaja. Ia kemudian bergabung dalam band psych-rock Post Animal saat tinggal di Chicago. Pada 2019 ia merilis album perdananya, ‘Twenty Twenty’, sebagai Djo. Pada 2022 ia merilis album keduanya, ‘DECIDE’, yang dirilis lewat AWAL dan mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus musik.
Album ‘The Crux’ ditulis di berbagai belahan dunia di masa paling bersinar dalam karirnya, yaitu saat ia harus bergulat dengan kefanaan dari pekerjaan dia yang lain dan merasa jauh dari teman-teman dan keluarganya. Semuanya dimulai saat ia bermeditasi selepas berakhirnya sebuah hubungan. Ia pun menemukan jalan untuk tetap tangguh dan merayakan orang-orang di sekitarnya yang ia miliki. Tema-tema seputar perayaan diri dan pentingnya peran sebuah komunitas pun ia tulis di lirik-liriknya yang kemudian membawa spirit serba kolaboratif di album barunya. Keluarga dan sahabat-sahabat lama Djo ikut berkontribusi di album ‘The Crux’. Hasilnya adalah energi hangat yang setara dengan ikatan kuat yang menjadi jantung dari album ini.
Album ‘The Crux’ tak hanya menunjukkan keambisiusan Djo, namun juga bakat luar biasanya sebagai seorang multi-instrumentalist dan penulis lagu. Semua lagu di ‘The Crux’ ditulis oleh dirinya atau bersama dengan Adam Thein. Meski banyak lagu di album ini membicarakan hal-hal yang cukup spesifik, ‘The Crux’ layaknya sebuah soundtrack film di mana para pendengarnya dapat merasa terhubung dengan seorang karakter, situasi, dan perasaan. Hal itu dirangkum oleh Djo lewat artwork album ini, yang merupakan hasil kolaborasi dengan Neil Krug. Artwork ‘The Crux’ menunjukkan sebuah hotel di mana semua tamunya hanya datang sesaat dan di persimpangan antara sisi spiritual dan emosional mereka.
(SPR)

