May 15, 2026
Image default
Hot GearHot Releases

Legenda Gitaris Indonesia Donny Suhendra Rilis Album Terakhir, ‘Origin’

South Jakarta – Jika Indonesia sedang menyusun daftar dewa gitar terhebat sepanjang masa, nama Donny Suhendra hampir tak mungkin dikesampingkan. Kiprahnya sebagai pelopor jazz fusion dan pendekatannya yang revolusioner terhadap gitar elektrik menjadikannya acuan – bukan hanya bagi generasi sezaman, namun bagi banyak gitaris generasi selanjutnya.

Tiga tahun setelah kepergiannya, sebuah album terakhir dari Donny Suhendra rampung dikerjakan. Origin, menjadi persembahan terakhir – sebuah proyek yang tak selesai semasa hidup, namun kemudian dirampungkan dengan cinta oleh para sahabat: Indra Lesmana dan Dewa Budjana bersama para kolaborator seperti Tohpati, Agam Hamzah, As Mates, Syaharani, dan beberapa lainnya.

Maret 2021, Donny mengirim draft lagu berjudul “Origin” kepada Indra Lesmana. Ia meminta Indra untuk mengisi bagian keyboard sekaligus memproduseri lagu tersebut. Materi itu kemudian direkam bersama Kuba Skowronski (saxophone) sampai ke proses mixing. Namun seperti biasa, setelah selesai, Donny “menghilang” – kebiasaan lama yang sudah dimaklumi di antara keduanya.

Komunikasi terus berjalan, walau sporadis. Di pertengahan Juni 2022, Donny sempat mengabarkan bahwa ia telah mengumpulkan dua lagu tambahan sebagai pondasi untuk sebuah album penuh keduanya setelah debut solo Di Sini Ada Kehidupan tahun 1999.

Sayang, takdir mendahului rencana. Donny Suhendra berpulang pada 19 Juni 2022, meninggalkan dunia dalam usia 64 tahun – juga proyek album Origin yang belum selesai. Perlahan terungkap bahwa Indra bukan satu-satunya yang terlibat dalam album Origin. Nyatanya, Donny sudah menggandeng beberapa sahabat lama – menjadi sebuah isyarat bahwa Origin adalah salam perpisahan bagi para sahabat.

Data rekaman yang tersisa, tersebar tidak beraturan. Folder demi folder dibuka tanpa peta. File gitar ditemukan tanpa urutan. Beberapa solo terputus di tengah, seperti belum selesai. Lagu-lagu memiliki 4–5 judul berbeda. Apa yang tadinya dipikir proses mixing biasa, berubah menjadi puzzle besar tanpa kotak petunjuk.

Indra dan Budjana menghubungi Redhy Mahendra – putra Donny – untuk meminta izin menyelesaikan album ini. Restu diberikan. Sejak saat itu, rekonstruksi dimulai.

Untuk bisa menyatukan semua data menjadi satu timeline utuh dibutuhkan proses yang memakan waktu hampir 6 bulan. Lagu-lagu disusun ulang, kolaborator dihubungi kembali, dan semua keputusan dibuat berdasarkan rekaman WhatsApp serta ingatan akan pembicaraan terakhir bersama Donny – menjadi peta kecil menuju visi akhir album Origin.

Cover Artwork Donny Suhendra – Origin ( foto : istimewa )

Origin memuat sembilan komposisi yang seluruhnya diciptakan Donny Suhendra. Prosesnya bergerak dengan satu prinsip penting: tak ada tambahan gitar baru. Semua permainan gitar yang terdengar di album ini adalah 100% petikan tangan Donny Suhendra. Jika pun ada tambahan elemen, hanya untuk mendukung dan menyusun ulang fragmen yang tercecer.

Lagu “Cintaku Negeri” menjadi salah satu lagu dengan proses yang paling menantang. Data yang tersisa hanya berupa guide gitar dan vokal hingga bagian refrain. Donny telah menyelesaikan lirik untuk dinyanyikan Syaharani, namun masih merasa ragu. Demi menghormati Donny, Indra dan Budjana memutuskan untuk tetap menggunakan versi asli lirik tersebut.

“Yang menarik, di bagian solo lagu tersebut itu saya ambil dari lagunya kang Donny yang sudah pernah beredar. Saya kulik suara dari pedal gitarnya kang Donny dan saya masukkan. Jadi mungkin kalau emang fansnya Donny, pasti tahu, saya ambil gitarnya dari lagu apa,” ungkap Budjana tentang proses rekonstruksi lagu tersebut.

Membuka hard drive peninggalan Donny Suhendra bagi Indra Lesmana, seperti membuka pintu ke ruang paling sunyi dan pribadi dari seorang sahabat. Di sana, Donny bicara dengan caranya sendiri – “Rasanya seperti ada Donny di samping saya, tiap saat saya membuka hard drive itu,” ungkap Indra.

Kolaborasi tak terduga datang lewat kehadiran Barry Likumahuwa yang mengisi akustik bass pada lagu “Tamu dari Timur”.

Semua berawal, saat Indra dan Budjana mengunggah proses penggarapan Origin ke media sosial. “Dia sempat bilang, ‘gue pengen ada akustik bass di lagu A’. Berarti ini harus akustik bass nih, Bud!” cerita Indra menirukan momen ketika mereka berdiskusi, menginterpretasi kehendak Donny dari pesan-pesan yang ditinggalkan.

Dari sekian banyak musisi yang ingin terlibat, Barry terpilih mengisi lagu untuk judul yang seolah telah ditakdirkan tanpa pernah direncanakan sebelumnya.

Untuk fokus track, Indra dan Budjana sama-sama menyebutkan lagu “Los Feliz” sebagai lagu yang mereka pilih jika mereka harus mengenalkan sosok Donny Suhendra kepada seseorang yang belum pernah mendengar permainannya.

“Los Feliz” bukan hanya komposisi, tapi juga kenangan. Nama itu diambil dari kawasan di Los Angeles tempat Donny dan Indra menginap saat melakukan tur JavaJazz tahun 1991. Di sanalah mereka merekam beberapa materi di Mad Hatter Studio milik Chick Corea.

“Album ini penting buat generasi muda,” kata Indra. “Karena Donny Suhendra adalah penanda lahirnya gitaris modern Indonesia.”

Donny Suhendra bukan hanya gitaris, ia juga perenung. Sebagai lulusan seni rupa ITB, ia bahkan sempat mendesain mockup fisik dari album ini. Simbol lingkaran sunyata – kekosongan yang hidup – menjadi citra visualnya. Desain tersebut kemudian disempurnakan oleh Hon Lesmana, istri Indra dan sahabat diskusi visual Donny.

“Dia cukup spiritual,” kenang Indra. “Kalau kita ngobrol sampai malam, ujung-ujungnya pasti nyambungnya ke sana.”

Bahkan dalam mendeskripsikan lagu “Origin”, Donny pernah bilang: “Gue pengen suasananya kayak Mandalorian. Ada padang pasir, suara angin, dan misteri.”

Untuk pemberian judul Origin, Donny sudah punya niat sejak awal. Kata itu bukan hanya penanda permulaan, tapi juga semacam mantra yang merangkum asal, arah, dan akhir dari pencariannya.

Origin, kata Indra, adalah suara Donny ketika kata-kata sudah tak mampu menampung kedalaman makna. Cara Donny memandang semesta. Sebuah kontemplasi panjang yang akhirnya menemukan medium paling jujur: musik.

Kepergian Donny adalah kehilangan besar bagi dunia musik dan kehadiran Origin menjadi semakin penting – bukan sekedar menghormati sosok Donny – namun, sebagai dokumentasi dari satu bab penting dalam sejarah musik modern di Indonesia.

Origin adalah monumen terakhir dari pelopor fusion guitarist di Indonesia. Album ini layak disejajarkan dengan karya-karya besar musisi legendaris Indonesia lainnya.

Kini, setelah Origin dirilis, muncul satu rencana yang terasa masuk akal dan mendesak: konser perayaan. “Kayaknya tinggal kita dan teman-teman di demajors ngobrol, mau bikin apa selanjutnya,” ujar Budjana. “Biar karya ini bisa sampai ke generasi muda, terutama para gitaris.”

Selain konser perayaan, perilisan cd, vinyl, dan t-shirt sebagai buah tangan dari album Origin juga sudah tercetus idenya untuk segera dirilis dalam waktu dekat. Nantinya hasil dari penjualan buah tangan ini akan disalurkan langsung kepada keluarga mendiang Donny.

Tak banyak gitaris di Indonesia yang bisa melintasi banyak genre dengan brilian, tapi juga mempunyai karya solo yang autentik. Donny Suhendra adalah satu dari sedikit nama itu.

Lewat Origin, kita sedang menyaksikan dunia dan isi kepala dari sosok paling ikonik dan inovatif dalam perjalanan gitaris modern di Indonesia.

Album Origin tersedia di seluruh platform streaming digital pada 19 Juni 2025, melalui kerja sama antara keluarga besar Donny Suhendra, para kolaborator, dan label rekaman demajors.

(SPR)

Related posts

Brisia Jodie Rilis “Sisa Janji” Untuk Soundtrack Drama Seri ‘Istri Paruh Waktu’

Qenny Alyano

Alex Warren & ROSÉ BLACKPINK Kolaborasi di Single “On My Mind”

AQK

Porter Robinson Rilis Single “Knock Yourself Out XD” Dari Album ‘SMILE! :D’, Umumkan Jadwal Tur Dunia 2024

AQK

Leave a Comment