South Jakarta – bar italia merilis single dan video baru berjudul “Rooster”, cuplikan terbaru dari album mendatang mereka ‘Some Like It Hot’ yang akan rilis pada 17 Oktober di Matador. Mengalir antara groove yang berliku dengan serangan gitar penuh intensitas, “Rooster” sekali lagi menunjukkan perpaduan antemik dan bebas dari album baru ini. Tonton penampilan live penuh energi dari lagu tersebut yang disutradarai Simon Mercer bersama bandnya.
“Rooster” mengikuti jejak single sebelumnya, “Cowbella” dan “Fu
Hari ini juga, band mengumumkan jadwal tur tambahan ke Australia, Selandia Baru, Jepang, Inggris, dan Eropa, termasuk konser terbesar mereka sejauh ini pada 26 Maret di The Roundhouse, London. Tur dunia ini akan dimulai dengan konser perilisan album pada 18 Oktober di The Dome, London, yang tiketnya sudah habis terjual.
Judul album ‘Some Like It Hot’ terinspirasi dari film tahun 1959 yang dibintangi Marilyn Monroe, Tony Curtis, dan Jack Lemmon, tentang sekelompok musisi nakal dalam sebuah petualangan. Film ini lucu, seksi, penuh energi, dan tak lekang waktu—sebuah pertunjukan dari tiga bintang besar yang tampil maksimal. Tentu saja, ada kemiripan yang tidak kebetulan. Album baru bar italia berdenyut dengan romansa, intrik, penemuan diri, dan ekstasi lewat lagu-lagu rock penuh gairah, folk pop yang memikat, balada yang mabuk perasaan, hingga momen-momen tak terdefinisi yang muncul tiba-tiba seperti cahaya matahari sore.


Album ini adalah puncak dari dunia kreatif Nina Cristante, Jezmi Tarik Fehmi, dan Sam Fenton—tiga penulis lagu yang kini melampaui akar underground mereka untuk meraih cakrawala yang lebih luas.
Perkembangan sound mereka, dari rekaman awal yang sederhana (bahkan menyerupai sketsa tangan—band ini pernah menggelar pameran gambar pada 2023) hingga sapuan besar yang penuh warna di Some Like It Hot, ditempa lewat proses menulis dan tur tanpa henti. Saat bar italia muncul pada 2023 dari lingkaran underground dengan merilis dua album yang mendapat pujian luas di Matador hanya dalam beberapa bulan—Tracey Denim yang penuh perhitungan dan The Twits yang megah—mereka masih pemalu, menghindari tatapan penonton, memulai set dalam kegelapan lalu segera menghilang ke belakang panggung. Namun, dua tahun berikutnya mereka menjelajahi dunia, tampil di berbagai panggung utama dari Istanbul hingga Tokyo, konser habis terjual di New York dan Los Angeles, serta festival besar seperti Corona Capital, Glastonbury, dan Coachella. Dengan lebih dari 160 pertunjukan di seluruh dunia sepanjang 2023–2024, misteri mereka berganti menjadi performa ekshibisionis dari formasi lima personel yang bertenaga, dengan banyak encore—sama kuatnya di kerumunan festival maupun di momen hening nan intim.
‘Some Like It Hot’ menceritakan perjalanan ini: kumpulan lagu rock yang penuh semangat untuk merebut panggung utama. Refrain kilat dari “omni shambles” dan “Eyepatch” menunjukkan band yang berhasil memadukan keunikan mereka ke dalam pop yang rapat dan energik. Ada kerinduan akan sesuatu yang nyata: “tunjukkan saja wajah yang kau sembunyikan,” ujar Fenton dalam waltz bernuansa Balkan “bad reputation”. Lagu-lagu lain sepenuhnya menyerah pada luapan emosi:
“Aku hilang dari dunia sejak kita berciuman,” nyanyi Fenton di “Rooster”. Sementara di kemegahan new wave ber-gitar 12 senar “Lioness”, Fehmi berkata: “Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan untukmu saat aku dalam suasana hati seperti ini.”
bar italia berhasil memadukan tema serius dan penuh perasaan mereka dengan kegembiraan dalam pertunjukan. Lagu-lagu ini memutarbalikkan keanehan mereka menjadi refrain besar, menemukan kekuatan dalam ketegangan, bermain dengan identitas diri, emosi, dan performa hingga semua batasnya kabur. Film klasik Hollywood 1959 yang menjadi judul album ini berakhir dengan kalimat abadi: “Well, nobody’s perfect.” Namun, karya ini nyaris sempurna.
(SPR)

