June 1, 2026
Image default
Asian Hit ListHot Releases

Shye Merilis “Too late”, Lagu Sendu Tentang Pahitnya Angan

South Jakarta – Satu bulan pasca penampilan perdananya di Indonesia, tepatnya di AXEAN Festival 2025 di Bali, sensasi pop asal Singapura Shye hari ini merilis single terbarunya “Too late”. Sebuah lagu melankolis yang bernuansa dreamy, “Too late” menceritakan tentang suara kecil dari rasa sakit kita saat rasa kasih tak sampai ke orang yang dituju. Jenis hubungan yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk betul-betul dimulai, hingga akhirnya tidak bisa dijalani karena mereka sudah bersama pasangannya sendiri.

Melalui “Too late”, Shye mendalami ranah sendu dari kesempatan-kesempatan yang terlewat ketika dua insan bertemu di waktu yang salah. Sebuah hubungan yang terasa ditakdirkan untuk terjadi, namun tidak terjadi karena satu dan lain hal hingga pada akhirnya mereka menjadi milik orang lain. Situasi yang membuat kita bertanya: Apa yang akan terjadi jika aku telah mengungkapkan perasaanku?

“Lagu ini ditulis tentang cinta yang tidak sempat terjadi. Terkadang ini justru lebih menyakitkan daripada yang terjadi namun berakhir karena kita jadi terus berpikir apa yang seharusnya mungkin bisa terjadi. Lewat lagu ini aku harap pendengar bisa membayangkan cerita mereka sendiri. Sebuah gabungan antara angan, harapan, nostalgia, dan juga penerimaan. Mungkin kalian akan bertemu mereka lagi dan mendapatkan kesempatan kedua, dan mungkin juga tidak. Siapa yang tahu?” ungkap Shye.

Dari segi produksi, lagu ini mengarahkan pendengar ke ketegangan emosi dan nostalgia yang menyelimuti cerita di balik lagu ini. Dibangun oleh synth yang kental dengan reverb-nya, alunan gitar akustik yang berlapis, dan dentuman konstan dari drum elektronik. “Keseimbangan di antara kecerahan dan sisi melankolis dari lagu ini menjadi titik emosional dari ‘Too late’.” ujar Shye. Menariknya, salah satu hal paling tidak terduga dari lagu “Too late” datang di bagian bridge, di mana aslinya merupakan lagu terpisah yang pada akhirnya menemukan rumahnya sebagai bridge lagu ini. “Ini salah satu bagian kesukaanku dari lagunya,” kata Shye. “Bagiku, bagian ini benar-benar menyampaikan rasanya ketika kita akhirnya menyampaikan apa yang kita ingin sampaikan.”

Secara tematis, “Too late” memasuki ranah cerita personal yang di waktu bersamaan juga merupakan pengalaman universal yang semua orang rasakan. Mulai dari adanya pemikiran “jika saja” hingga situasi dengan timing yang rasanya salah, lagu ini merupakan sebuah refleksi dari pengalaman itu. “Semua orang pasti punya momen di mana mereka berharap bahwa mereka mengucapkan isi hati mereka lebih cepat, atau berandai-andai apa yang seharusnya bisa terjadi jika semua berlangsung sedikit berbeda.”

entang Shye

Shye adalah seorang musisi independen, produser, dan penulis lagu yang dikenal melalui lagu-lagunya yang merupakan peleburan mulus antara indie pop dan rock alternatif. Sepenuhnya autodidak, ia menulis, merekam, memproduksi, serta mixing dan mastering semua lagunya sendiri. Merangkai sebuah suara khas yang intim dan ekspansif.

Shye memulai perjalanan musiknya di umur 16 tahun saat ia menjadi pemenang termuda di kompetisi musik Vans Musicians Wanted di tahun 2018. Sejak itu ia telah merilis karya secara reguler termasuk EP perdananya yang berjudul ‘Augus7ine’ di tahun yang sama, diikuti oleh album perdananya di tahun 2020 yang bertajuk ‘days to morning glory’. Album perdananya berhasil memenangkan Album of The Year di Youth Music Awards Singapura pada tahun 2021. Selanjutnya adalah EP eksperimental Shye yang berjudul ‘hello TRINITY’ dirilis pada 2021, dan disusul oleh EP ‘idk it’s complicated’ pada 2022, dan EP terkininya ‘9LIVES’ pada tahun 2023 yang diikuti oleh serangkaian single selama tahun 2024. Kini ia melanjutkan perilisan single-single menuju album berikutnya yang akan ia rilis di akhir tahun 2025.

Sejauh ini Shye telah tampil di festival musik layaknya Tiger Den SXSW di Austin, Texas (2023), Axean Festival di Singapore (2023), Asia Rolling Music Festival di Taiwan (2022), Urbanscapes di Malaysia (2019), Baybeats di Singapura (2023, 2019), Asiya Festival di Filipina (2024), dan secara virtual untuk Music Lane Okinawa (2021) dan Bangkok Music City (2020). Shye telah tampil juga di acara pengangkatan Perdana Menteri Singapura yang baru pada Mei 2024 lalu, dan menutup penampilan tahun itu di The Alex Blake Charlie Sessions pada bulan Desember 2024 bersandingan dengan musisi internasional lainnya. Tahun ini ia telah memperluas jejaknya dalam wilayah Asia dengan penampilannya di Emerge Fest, Taiwan di bulan Februari dan menggelar konser solo pertamanya di Bangkok, Thailand pada bulan April lalu. Di bulan September, Shye tampil untuk pertama kali di Indonesia pada acara AXEAN Festival Bali. Ia juga tampil di Music Matters Live di Singapore sebelum ia pergi ke Jepang untuk tampil di weekend penutupan World Expo Osaka. Dalam waktu dekat Shye akan tampil di Creatorweek Macao, mengukuhkan kehadirannya di kancah musik se-Asia.

Keberadaannya telah beranjak melampaui batasan negaranya hingga jauh menjangkau Times Square, New York City melalui billboard Spotify EQUAL, hingga dinobatkan sebagai Freshmusic’s Best New Artist di tahun 2021, Best New Act from Asia di Bandlab NME Awards 2022, dan KKBOX Rising Star Award 2022. Shye juga pernah difitur dalam 30 Under 30 milik Forbes Asia di tahun 2023, Gen T Leaders of Tomorrow milik Tatler Asia di tahun 2024, 40 under 40 milik majalah Prestige, dan 100 Global and Asia milik Dazed. Di waktu mendatang,  ia juga akan menerima penghargaan Top 10 of Asia di Kuala Lumpur.

Shye telah menjadi musisi pembuka untuk beberapa musisi internasional termasuk Daniel Caesar, Clairo, Superorganism, Sales, Men I Trust, dan The Chairs saat mereka menghampiri Singapura saat tur. Sebagai tambahan, ia juga pernah mewakili Singapura dalam acara televisi 青年派计划 (Youth π Plan) di Cina dan Chuang Asia di Thailand. Shye juga tergabung dalam deretan musisi yang menyanyikan lagu tema Hari Nasional Singapura di tahun 2021 yang berjudul “The Road Ahead” dan baru-baru ini, ia turut tampil di panggung Parade Hari Nasional sebagai bagian dari selebrasi SG60.

Di luar musik, Shye juga pernah diundang Chanel untuk menghadiri peragaan busana internasional pertamanya di Hong Kong pada bulan November lalu. Peragaan Chanel Cruise Replica Show yang turut dihadiri oleh musisi layaknya G-Dragon dan Angèle. Ia juga menjadi warga negara Singapura pertama yang diundang untuk hadir di peragaan busana Chanel di Paris Fashion Week bulan Maret lalu sebagai salah satu celebrity guest. Shye telah muncul di halaman depan berbagai majalah seperti FEMALE, Men’s Folio, Prestige, Her World, Grazia, Aplus, dan ELLE Singapore. Seiring berjalannya waktu, ia juga telah bekerjasama dengan berbagai merk, menjajal perannya sebagai orang berpengaruh di industri musik, mode, dan budaya.

Mau di atas panggung atau di studio kamar tidurnya, Shye dipandu oleh kecintaannya terhadap musik dan storytelling. Menulis musik yang mampu membuat pendengar merasakan apa yang kata-kata saja tidak bisa utarakan. Melalui setiap lagu yang ia buat sendiri, Shye mengundang pendengar untuk masuk dan menjelajahi dunianya sambil bersama-sama mengulik dunia yang dihadapi.

(SPR)

Related posts

Juke Band Rilis Single “Pergilah”,Tentang Keberanian Mengakhiri Hubungan

Qenny Alyano

Sambut Valentine, Musisi Reza Arfandy Rilis Debut Solo Bertajuk “Perfect”

AQK

Lullaboy Gambarkan Diri Tulus Bermakna Lewat Album ‘Coming Home’

AQK

Leave a Comment