July 11, 2026
Image default
What's New

Laufey Raih Best Traditional Pop Vocal Album di Grammy Awards ke-68 Lewat ‘A Matter of Time’

South Jakarta – Musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis asal Los Angeles berdarah Islandia-Tiongkok, Laufey, kembali mencatatkan prestasi di ajang Grammy Awards ke-68 dengan memenangkan kategori Best Traditional Pop Vocal Album lewat albumnya, ‘A Matter of Time’. Kemenangan ini menandai kedua kalinya ia meraih piala di kategori yang sama, setelah sebelumnya pada tahun 2024 memenangkan kategori ini melalui album keduanya ‘Bewitched’, yang sekaligus menjadikannya musisi termuda yang pernah menerima penghargaan tersebut.

Dirilis pada bulan Agustus 2025,  ‘A Matter of Time’ mendapatkan sambutan yang luar biasa secara global. Album tersebut berhasil debut di posisi #4 Billboard 200 serta #1 Jazz Albums Chart, di mana album ini masih bertahan di jajaran 10 besar hingga kini. Melalui album ini, Laufey semakin mempertegas warna musiknya yang tetap berakar pada pengaruh klasik dan jazz, yang ia cintai, namun tanpa terikat oleh standar atau batasan genre.

Pada proses kreatif album ini, Laufey bekerja sama dengan dua sosok produser musik yaitu Spencer Stewart, rekan lama yang terlibat dalam dua album Laufey sebelumnya, dan Aaron Dessner, produser yang dikenal lewat kolaborasinya bersama Taylor Swift di album ‘Folklore’ dan ‘Evermore’. Kehadiran Dessner sebagai produser album ini membawa warna baru dalam proses kreatif Laufey, dengan pendekatannya selama ini dikenal peka terhadap sisi emosional dari seorang musisi.

Kemenangan di Grammy Awards ini melengkapi tahun yang monumental bagi Laufey. Tur keliling Eropa dan Inggrisnya akan dimulai pada akhir bulan ini, dengan sejumlah tanggal pertunjukannya yang telah terjual habis, sebelum ia kembali ke Amerika Serikat untuk tampil di Coachella pada bulan April mendatang. Selain itu, Laufey juga akan merilis buku anak-anak pertamanya, ‘Mei Mei The Bunny’ pada 21 April nanti melalui Penguin Random House.

Tentang Laufey
Laufey (dibaca lāy-vāy) adalah musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok yang berhasil memikat generasi baru lewat lagu-lagu penuh kepekaan tentang cinta dan pencarian jati diri, dengan sentuhan pop yang diperkaya unsur jazz dan musik klasik. Ia menjadi penghubung lintas generasi, menjembatani karya-karya lama yang ia cintai dari Chet Baker hingga Carole King dan Ravel, lalu menerjemahkannya ke perspektif baru yang segar bagi pendengar muda. Semua ini adalah tujuan yang sejak awal ia tetapkan untuk dirinya, dan berhasil, melahirkan semesta musikal yang dikenal sebagai “Laufey Land.”

Dibesarkan di Reykjavík dan Washington, D.C., Laufey mulai belajar piano dan cello sejak kecil, sebelum melanjutkan pendidikan di Berklee College of Music. Di sanalah ia menulis EP debutnya, ‘Typical of Me’ (2021), dengan single “Street by Street” yang langsung menempati posisi No. 1 di radio nasional Islandia, awal dari sederet prestasi yang terus bertambah. Saat ini, Laufey telah mencatat lebih dari 5 miliar streams global, mengumpulkan 25 juta pengikut di media sosial, memecahkan rekor sebagai debut album jazz terbesar dalam sejarah Spotify, serta masuk Billboard Top 20 lewat albumnya ‘Bewitched’. Ia juga mengoleksi berbagai sertifikasi Platinum, masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30, serta dinobatkan sebagai salah satu dari TIME’s Women of the Year 2025. Laufey telah menjual habis tiket konser di panggung ikonik seperti Hollywood Bowl, Radio City Music Hall, dan Royal Albert Hall di London; tampil bersama orkestra ternama seperti LA Philharmonic, National Symphony Orchestra, dan China Philharmonic Orchestra; berbagi panggung dengan musisi seperti Jon Batiste dan Raye; serta berkolaborasi dengan nama-nama lintas genre mulai dari Beabadoobee hingga Norah Jones.

Laufey – A Matter of Time -Lead- _ Photo Credit Emma Summerton

Kini lewat ‘A Matter of Time’, Laufey semakin memantapkan warna musiknya yang khas, tetap berakar pada pengaruh klasik dan jazz yang ia cintai, namun kini lebih bebas dari batasan maupun pakem. “Aku terus memikirkan bagaimana cara melestarikan klasik dan jazz sekaligus memberi penghormatan,” ujarnya. “Tapi di album ini aku hanya ingin membiarkan hatiku mengembara.” Untuk mewujudkan visi tersebut, Laufey menggandeng dua produser yaitu Spencer Stewart, kolaborator lamanya di dua album terdahulu, dan Aaron Dessner (Taylor Swift, Ed Sheeran), sosok baru baginya namun dikenal sebagai produser yang mampu membantu artis membuka sisi terdalam mereka. Kebebasan artistik ini memberi ruang bagi Laufey untuk mengeksplorasi tema-tema yang lebih berat sekaligus menampilkan sisi personal yang lebih berani. “Orang-orang sering membayangkan façade indah pakaian feminin, kisah fantasi, dan musik romantis adalah aku,” katanya. “Tapi kali ini aku ingin menatap langsung bagian-bagian paling rapuh dalam diriku.”‘A Matter of Time’, memperlihatkan Laufey di titik paling berani sekaligus sisi jenakanya, saat ia menangkap pengalaman tentang “cinta sejati” dalam berbagai bentuknya, dan bagaimana cinta itu mampu menelanjangi kita pada sisi kerentanan manusia yang terdalam.

Dalam proses penggarapan album ini, Laufey merasa lebih bebas dari sebelumnya. “Setiap album baru bagiku adalah seperti buku kosong berisi cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis,” ujarnya. Hal ini tercermin dalam perjalanan diskografinya ‘Everything I Know About Love’ (2022) ia isi dengan kisah coming-of-age tentang meninggalkan rumah, sementara ‘Bewitched’ (2023) yang meraih GRAMMY® menukik dalam pada pengalaman cinta muda. Dibungkus dengan aransemen orkestra megah, sentuhan bossa nova dan jazz, serta vokal altonya yang hangat, kedua album tersebut menegaskan Laufey sebagai bintang yang mampu membuat suara-suara dari masa lampau tetap terdengar abadi.

Awal tahun ini, Laufey juga meluncurkan The Laufey Foundation, sebuah inisiatif yang mendukung musisi muda khususnya lewat orkestra, agar dapat mengakses sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengembangkan potensi sepenuhnya. Sebesar $1 dari setiap tiket tur ‘A Matter of Time’, disumbangkan untuk yayasan ini.

Setelah sukses menggelar tur sold-out di Asia tahun lalu, termasuk di Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, dan Taipei, Laufey semakin memperkuat posisinya sebagai fenomena global. Popularitasnya juga tercermin dari performa streaming yang impresif, dengan Filipina, Indonesia, dan Malaysia masuk ke dalam daftar 10 pasar streaming terbesar Laufey di seluruh dunia.

(SPR)

Related posts

Konser The Script Mendatang Umumkan Kelas Baru Lebih Terjangkau

AQK

Jelang Debut di Jepang NewJeans Rilis Single dan MV “Bubble Gum”

AQK

Konser Tribute Daft Punk Sukses Digelar di Jakarta

Qenny Alyano

Leave a Comment