South Jakarta – Band pendatang baru asal Yogyakarta, Black Langues, resmi memperkenalkan diri ke publik melalui single debut berjudul “Happy”. Dibentuk pada Agustus 2025 oleh Aaron, Black Langues hadir bukan hanya sebagai proyek musik biasa, tetapi juga sebagai ruang eksplorasi suara sekaligus medium untuk menyuarakan isu-isu yang relevan dengan kehidupan saat ini.
Nama Black Langues sendiri memiliki makna filosofis. Kata “Langue” diambil dari konsep linguistik yang berarti kemampuan manusia untuk berbahasa dalam sistem yang abstrak, bukan sekadar berbicara. Filosofi tersebut menjadi fondasi band dalam membangun identitas musikal yang bebas, eksploratif, dan sulit dikategorikan dalam genre tertentu.
Black Langues digawangi oleh Aaron sebagai gitaris, vokalis, komposer sekaligus lyricist. Sebagai tambahan informasi, Aaron yang secara umum termasuk “anak berkebutuhan khusus”, seorang anak dengan disleksia, diskalkuli, dan disgrafia serta beberapa catatan lain, namun bisa menemukan jalan sesuai minat dan bakatnya. Aaron mendapatkan dukungan kuat dari keluarganya sehingga memutuskan pindah sekolah ke Yogyakarta dalam rangka mencari sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan bakatnya, yaitu di bidang musik. Ini membuktikan bahwa tidak ada anak yang bodoh, semua anak memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Black Langues ia bentuk bersama adiknya, Austin, drummer berusia 14 tahun dan Haidar pada bass yang secara usia paling dewasa, seorang sarjana Hukum. Meski tidak memiliki kiblat musik tertentu, mereka lebih memilih mengeksplorasi karakter sound masing-masing demi menemukan identitas yang autentik.


Single perdana mereka, “Happy”, dipilih sebagai lagu perkenalan karena memiliki struktur musikal yang easy listening dan mudah diterima pendengar. Namun dibalik nuansa tersebut, lagu ini membawa pesan yang dalam mengenai kehidupan dan kesehatan mental. Kesehatan mental anak muda saat ini perlu mendapat perhatian lebih, baik dari keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat, dan pemangku kebijakan. Berita-berita bunuh diri yang terjadi di kalangan generasi muda menyentuh Aaron sehingga menciptakan lagu “Happy”. Lirik yang mempertanyakan seolah-olah mereka (society) bahagia ketika melihat anak-anak muda ini mati. Hal ini menjadi bahan introspeksi dan renungan bagi kita semua.
“Lagu ini menceritakan tentang banyaknya hal yang bisa dilihat dari hidup, dan bahwa mati bukanlah sebuah opsi,” Tegas Aaron.
Dalam proses kreatifnya, lagu “Happy” berawal dari riff gitar sederhana yang direkam Aaron agar tidak hilang begitu saja. Dari sana, instrumen lain, lirik, hingga vokal mulai berkembang secara organik. Dedikasi Aaron terhadap detail produksi bahkan membuatnya rela tidak tidur selama dua hari demi menemukan hasil mixing yang menurutnya tepat.
Secara musikal, Black Langues mendeskripsikan sound mereka sebagai sesuatu yang “raw”, mentah, namun tetap memiliki esensi modern dan bersih. Mereka juga percaya bahwa musik tidak harus dibatasi oleh genre.
“Suara itu bisa dieksplor lebih dalam dan menemukan bentuk yang tidak dapat diidentifikasi maupun dikategorikan,” jelas Aaron.
Melalui “Happy”, Black Langues berharap pendengar dapat lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar mereka dan lebih terbuka untuk mendengarkan cerita satu sama lain. Sebab, menurut mereka, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dialami seseorang dalam hidupnya.


Saat ini Black Langues juga tengah menyiapkan rilisan berikutnya berupa album bertajuk “Reset”. Sementara untuk strategi perkenalan band, mereka memilih fokus menyasar generasi muda melalui pendekatan media sosial dan perkembangan algoritma digital saat ini.
Dalam 1–2 tahun ke depan, Black Langues berharap dapat dikenal sebagai band dengan karakter sound yang khas, namun tetap diisi oleh individu-individu yang rendah hati dan membawa pesan yang relevan bagi generasi sekarang.
Single debut “Happy” menjadi langkah awal Black Langues untuk memperkenalkan warna musik serta sudut pandang mereka terhadap kehidupan modern — sebuah pengingat sederhana bahwa kepedulian terhadap sesama masih menjadi hal yang penting hari ini.
Dalam kesempatan ini, Rumah Jawa Apik Creative House menggandeng AIDE Consultant Indonesia dalam mendukung Black Langues terkait dengan isu kesehatan mental generasi muda dengan mewujudkan tindakan nyata berupa pelayanan konsultasi psikologis kmelalui program konseling “Pay As You Wish” dimana jasa konseling dapat dibayar seikhlasnya. Program tersebut terbuka untuk semua mahasiswa dan pelajar yang ada di Yogyakarta. Perwakilan dari AIDE Consultant, Fadhilah Ramadhani yang hadir dalam press release menyampaikan pentingnya ruang aman bagi anak muda dalam menyampaikan keresahan atau permasalahan yang sedang dihadapi.
(SPR)

