South Jakarta – Sedikit drama ternyata tidak pernah menyakiti siapa pun, dan Emei membuktikannya lewat EP terbarunya, ‘Night at the Opera’ , yang resmi dirilis melalui Atlantic Records dan Nice Life Records. Melalui proyek ini, penyanyi dan penulis lagu Chinese-American tersebut menghadirkan perpaduan khas antara kejujuran, emosi yang meluap, dan sentuhan teatrikal yang selama ini menjadi identitas musiknya.
Menandai kembalinya Emei ke akar musikalnya sebagai seorang “theater kid”, ‘Night at the Opera’ merangkul seluruh naik-turunnya kehidupan serta perasaan besar yang selama ini menjadi pusat dari karya-karyanya.
“Aku ingin kembali menerima sisi diriku yang mencintai teater. Jadi, kalian akan mendapatkan seluruh rasa sakit, emosi, dan drama dariku!” ujar Emei.
Hasilnya adalah sebuah proyek yang ekspresif tanpa kompromi, jujur secara emosional, sekaligus sangat menyenangkan untuk dinikmati. ‘Night at the Opera’ semakin mempertegas posisi Emei sebagai salah satu nama baru paling menarik di kancah musik pop saat ini.
Bersamaan dengan perilisan EP tersebut, Emei juga membagikan visualizer resmi untuk single “Noah”, lagu yang ia sebut sebagai diss track andalannya. “Kalau kalian mengenalku, kalian tahu aku selalu menyelipkan diss track,” ungkapnya. “Lagu ini adalah surat untuk diriku di masa lalu dan untuk siapa pun yang bertemu pria performatif ala Los Angeles yang akan kusebut ‘Noah’. Tidak bermaksud menyinggung Noah yang baik di luar sana, tapi ini berbahaya. Ada pria-pria yang menghafal dialog dari The Notebook. Lalu aku sadar kalau karakter Noah sebenarnya bukan sosok pria idaman seperti yang dibayangkan banyak orang, dia ternyata agak menyebalkan.”
Dikerjakan bersama penulis lagu peraih GRAMMY® Awards Justin Tranter, yang pernah bekerja dengan Chappell Roan, Justin Bieber, dan Selena Gomez, serta produser peraih GRAMMY® Awards Ricky Reed yang dikenal lewat kolaborasinya bersama Lizzo, Leon Bridges, dan Phantogram, ‘Night at the Opera’ menampilkan Emei dalam versi paling teatrikal sepanjang kariernya. Hook pop yang manis, lirik yang jujur, serta produksi yang dinamis menjadi fondasi dari lima lagu yang memperlihatkan bagaimana Emei menemukan kembali dirinya. Setelah bertahun-tahun berusaha menjadi sosok yang dianggap “cukup keren”, kini ia memilih untuk sepenuhnya menerima sisi dirinya yang penuh perasaan. “Saat ini aku adalah versi diriku yang paling jujur,” ungkap Emei. “Musiknya menyenangkan, konyol, dan apa adanya. Aku melakukan persis apa yang ingin kulakukan.”
Jika tahun 2022 “Late to the Party” memperkenalkan nama Emei ke publik lewat TikTok, maka “Scatterbrain”
Kini, lewat ‘Night at the Opera’ , Emei berhenti meminta maaf atas siapa dirinya sebenarnya. Karena terkadang, menjadi terlalu emosional, terlalu peduli, dan terlalu dramatis bukanlah kelemahan. Mungkin itu justru bagian terbaik dari diri kita.
‘Night at the Opera’ Tracklisting
1.Night at the Opera
2. What’s The Point!
3. Noah
4. Bloom
5. Simple Request

Tentang Emei
Emei kemudian melanjutkan pendidikan di Yale University dan meraih gelar di bidang cognitive science. Pada 2022, ia mulai mengunggah karya-karya orisinalnya ke internet dan langsung mencuri perhatian lewat “Late to the Party”, yang viral di TikTok dan menjadi awal dari EP End of an Era. Namanya semakin melesat lewat perilisan “Scatterbrain”. Lagu tersebut masuk dalam daftar Spotify Best Pop Songs of 2023 dan telah mengumpulkan lebih dari 71 juta streams di Spotify, disusul oleh “Irresponsible” dengan lebih dari 31 juta streams. Sepanjang 2025, Emei juga sukses menjual habis rangkaian turnya di Australia sebelum menjalani tur terbesar dalam kariernya sejauh ini, tampil di hadapan penonton yang memenuhi venue-venue di Amerika Serikat hingga Eropa.
Namun pada 2024, dunia Emei berubah ketika sang nenek tercinta meninggal dunia. Ia menyalurkan seluruh rasa kehilangan tersebut ke dalam proses kreatif yang kemudian melahirkan ‘Night at the Opera’. Bersama Ricky Reed, Justin Tranter, dan sejumlah kolaborator lainnya, Emei menuangkan semuanya tanpa menyisakan apa pun, mulai dari duka, perpisahan dengan teman-teman, kehilangan arah, hingga krisis seperempat abad yang ia alami.
“Itu adalah salah satu tahun tersulit dalam hidupku,” ungkap Emei. “Proyek ini lahir dari duka. Ini adalah evolusi besar dari musikku sebelumnya karena ditulis di masa ketika aku mengalami emosi yang sangat intens.”
Kini, Emei tampil tanpa menahan diri. Ia tidak lagi takut terlihat terlalu emosional atau terlalu peduli. Justru sebaliknya, ia merayakan semua itu.
“Aku tumbuh besar dengan teater, tapi semuanya berubah ketika karier musik popku dimulai,” katanya. “Aku ingin kembali menerima sisi diriku yang mencintai teater. Proyek ini benar-benar terasa seperti pulang ke rumah. Dulu, ada bagian dalam diriku yang selalu berkata, ‘Jangan terlalu berusaha. Jadilah keren saja.’ Tapi persetan dengan itu. Aku memang suka berusaha keras. Itu bagian dari diriku. Aku peduli pada setiap detail. Jadi, kalian akan mendapatkan seluruh rasa sakit, emosi, dan drama dariku!”
Lewat ‘Night at the Opera’, Emei menghadirkan karya yang paling berani, paling personal, dan mungkin paling jujur dalam perjalanan bermusiknya sejauh ini. Ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah pertunjukan yang mengajak pendengarnya merasakan setiap emosi bersama dirinya. Selamat datang di dunia Emei, pertunjukannya baru saja dimulai.
(SPR)

