August 12, 2026
Image default
Event & Community

Gallery Talk Show “BEFORE THE VIDEO… THERE WAS A FRAME”, Digelar Weekend Ini di Ampera Kemang

South Jakarta – Untuk kalian yang menyukai dan tertarik dengan video musik dan dunia fotografi, jangan sampai melewatkan cara yang satu ini. 25 tahun berlalu, sebuah pertemuan antara dunia fotografi analog dan music video melahirkan satu eksperimen visual dalam “Kidung Mesra”, karya KLa Project yang dirilis pada 2001.

Kini, perjalanan di balik karya tersebut kembali dibuka melalui SPECIAL SESSION | GALLERY TALK — “BEFORE THE VIDEO… THERE WAS A FRAME. Every Frame Tells a Story.”, yang mempertemukan Firdaus Fadill dan Oleg Sanchabakhtiar yang akan berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di CC CAFE at Nancy’s Place, Jl. Ampera Raya No. 42, Cilandak, Jakarta Selatan, Link Pendaftaran: https://bit.ly/3Ttyrn0

Acara yang  dipersembahkan oleh CITA SWARA INDONESIA ini, bukan sekadar melihat kembali sebuah music video lama, melainkan yang ingin dibawa ke ruang percakapan justru cerita tentang bagaimana sebuah ide, pertemanan, keberanian bereksperimen, dan kolaborasi lintas medium dapat melahirkan sebuah karya—dan tetap menarik untuk dibicarakan 25 tahun kemudian.

Ketika Sebuah Foto Tidak Harus Berakhir di Kertas
Ada satu cerita penting di balik lahirnya kolaborasi tersebut. Ketika proyek “Kidung Mesra” dipersiapkan, Oleg Sanchabakhtiar melihat fotografi Firdaus Fadill bukan semata sebagai karya yang selesai ketika foto dicetak. Sebagai seseorang yang juga menyukai fotografi, Oleg melihat kemungkinan untuk membawa karakter fotografi analog tersebut memasuki medium yang bergerak. Dalam keterangannya, Oleg Sanchabakhtiar menjelaskan,

 

 

 

Oleg Sanchabakhtiar ( foto : istimewa )

 

“Waktu itu saya memang yang mengajak Mas Daus. Saya suka fotografi juga, dan saya melihat karya Mas Daus bukan hanya sebagai foto yang selesai ketika dicetak. Saya melihat ada kemungkinan lain. Bagaimana kalau karakter fotografi analog itu kita bawa masuk dan menjadi bagian dari bahasa sebuah music video? Dari situlah kami kemudian berkolaborasi untuk KLa Project – ‘Kidung Mesra’,”.

Pertemuan itu kemudian membawa dua cara melihat gambar ke dalam satu ruang kreatif.
Firdaus datang dengan sensibilitas fotografi analog, ketika setiap frame, cahaya, momentum, komposisi, dan keputusan menekan shutter memiliki konsekuensinya sendiri. Sementara Oleg datang dari wilayah gambar bergerak, tempat frame bertemu dengan musik, ritme, editing, dan waktu. Bukan sekadar memasukkan foto ke dalam video, tetapi yang dicari adalah rasanya.

Sebelum Ada Video, Ada Frame Judul “Before the Video… There Was a Frame” berangkat dari gagasan sederhana: sebuah foto adalah satu frame, sementara gambar bergerak pada dasarnya juga dibangun oleh rangkaian frame.
Dari pemikiran tersebut, batas antara fotografi dan video menjadi menarik untuk dieksplorasi.
Di dalam MV “Kidung Mesra”, karakter fotografi tidak diposisikan sekadar sebagai elemen dekoratif. Tekstur analog, momentum, komposisi, dan karakter frame dipertemukan dengan musik serta perjalanan waktu di dalam music video.

Eksperimen itu dilakukan pada masa ketika teknologi produksi audiovisual masih sangat berbeda dibandingkan sekarang. Video musik “Kidung Mesra” diproduksi menggunakan Betacam SP untuk gambar bergerak dan kamera SLR 35mm dengan roll film untuk fotografi. Hasil fotografi diproses menjadi contact print, kemudian dipindai dan dibawa kembali ke wilayah video untuk menjadi bagian dari konstruksi visual.

Proses pasca produksinya menggunakan Media 100 dan Adobe After Effects. Berbagai foto, video, tekstur, grafis, dan efek visual akhirnya berkembang hingga mendekati 100 layer, dengan proses editing dan finishing yang berlangsung hampir 30 hari. Akan tetapi,i dalam sesi ‘Gallery Talk’ nanti, angka-angka itu bukan cerita utamanya. Yang lebih penting adalah mengapa mereka memilih melakukannya dan dibicarakan 25 tahun kemudian.

Video musik “Kidung Mesra” berhasil  meraih gelar Music Video Terbaik di ajang Video Musik Indonesia (VMI) 2001. Namun setelah seperempat abad, penghargaan tersebut bukan satu-satunya alasan karya ini menarik untuk dibuka kembali. Ada pertanyaan yang lebih relevan untuk generasi kreator hari ini:
‘Dari mana sebuah eksplorasi kreatif sebenarnya dimulai?: Bisa jadi bukan dari teknologi terbaru.
Bukan pula dari perangkat paling canggih.
Kadang suatu ide bermula dari pertemanan, rasa ingin tahu, keberanian melihat medium lain, lalu sebuah pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kita coba?”

Itulah benang merah yang akan dibawa Firdaus Fadill dan Oleg Sanchabakhtiar dalam Gallery Talk ini—melihat kembali bagaimana fotografi dan music video pernah dipertemukan bukan karena tuntutan tren, melainkan karena keinginan menemukan kemungkinan visual yang lain. Dua puluh lima tahun kemudian, ketika AI, kamera digital, smartphone, dan aplikasi editing membuat batas antar-medium semakin tipis, cerita “Kidung Mesra” justru mendapatkan konteks baru. Sebab teknologi boleh berubah.
Medium boleh berkembang, tetapi keberanian untuk bereksperimen, berkolaborasi, dan menemukan bahasa visual sendiri tetap menjadi bagian penting dari sebuah proses kreatif.
Before the video… there was a frame.

 

 

Related posts

Final Bintang Radio Indonesia 2025 Putaran Terakhir, Maliq D’essentials Jadi Penutup

Qenny Alyano

The Script Tiba di Indonesia Untuk Konser Satellites World Tour 2025

AQK

Ultah Ke-3, SWAG Event Gelar Perayaan Seru di Kala Kalijaga

AQK

Leave a Comment