South Jakarta – YAO, supergroup yang menyatukan ratu hip-hop Jepang Awich, rapper ternama CHICO CARLITO, band rock global ONE OK ROCK, dan band Paledusk, hari ini merilis single ke-2 mereka “FOR OKINAWA”. Dengarkan single terbaru mereka lewat tautan ini.
Lahir dari perbincangan mereka selama proses produksi, “FOR OKINAWA” menjelajahi kota Okinawa dari segi sejarah, kultur, dan luka masa lalu yang masih membekas. Okinawa merupakan kampung halaman Awich dan CHICO CARLITO. Keduanya kerap membagikan kisah-kisah tentang Okinawa dan realita yang dihadapi oleh orang-orang yang berasal dari kota itu. Perspektif keduanya membuat member YAO lainnya merasa terhubung, termasuk Taka dari ONE OK ROCK yang ingin mempertahankan warisan budaya khas Okinawa.
Tujuan yang sama itu pun menjadi fondasi dari lagu ini. YAO pun merasa bahwa pesan yang ingin disampaikan tidak hanya dibutuhkan oleh Jepang modern saat ini, namun juga relevan secara global. Taka yang berasal dari Tokyo kemudian menantang dirinya sendiri untuk menciptakan melodi yang belum pernah ia buat sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah karya yang penuh hasrat dan serba personal, terinspirasi dari latar belakang, pengalaman, dan roots masing-masing member YAO yang bersatu untuk sebuah pesan yang sama.

Lewat “FOR OKINAWA”, YAO terus menjelajahi kemungkinan yang terjadi saat sejumlah musisi dari berbagai latar belakang musik dan kultur bersatu dan menciptakan sebuah sound yang unik. Video musik untuk “FOR OKINAWA” akan segera dirilis yang dipastikan melebarkan semesta YAO dan menghidupkan kisah di balik lagu “FOR OKINAWA”.
Tentang YAO
YAO adalah proyek kolaborasi baru yang mempersatukan Awich, CHICO CARLITO, ONE OK ROCK, dan Paledusk. Mereka mengambil inspirasi dari konsep “Yaoyorozu” yaitu kepercayaan bahwa ada tiap hal di sekitar kita memiliki ruh. YAO merayakan perspektif beragam dan suara-suara kreatif.
Proyek ini memadukan berbagai latar mulai dari hip-hop, rock, mainstream, dan musik underground. YAO adalah manifestasi saat semua kemungkinan dijelajahi dan saat berbagai batasan dilewati, serta saat perbedaan dirayakan. Hasilnya adalah kolektif kreatif baru dengan pondasi yang dibangun dari rasa saling menghormati, koneksi, dan pencarian akan ekspresi artistik yang baru.
(SPR)

