September 28, 2026
Image default
Hot ReleasesWhat's New

TENHOLES Rilis Album ‘SATYA’ Tentang Perlawanan Tak Pernah Padam

South Jakarta – TENHOLES, band punk rock asal Jakarta Timur, kembali dengan album terbaru bertajuk ‘SATYA’, sebuah karya yang merangkum perjalanan tentang keluarga, janji, cinta, kehilangan, kegelisahan, kehidupan kelas pekerja, perlawanan, hingga penerimaan. Delapan lagu di dalamnya disusun sebagai satu perjalanan hidup, dari seorang anak yang mulai mengenal dunia hingga seorang manusia yang belajar memahami arti tanggung jawab, kehilangan dan kemanusiaan.

“SATYA itu tentang janji, api yang kita jaga, dan perlawanan yang tidak pernah padam,” ujar Ukien Skins, vokalis TENHOLES.

Melalui album ini, TENHOLES tidak menghadirkan gambaran laki-laki sebagai sosok yang selalu kuat dan memiliki semua jawaban. SATYA justru berbicara tentang manusia yang bisa takut, gagal, kehilangan, marah, mempertanyakan hidup, namun tetap memilih untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan.
“Sudut Kota” menjadi pintu masuk menuju dunia SATYA, menggambarkan masa ketika seorang anak mulai mengenal kerasnya kehidupan melalui jalanan, persahabatan, kesepian, konflik, cinta dan berbagai persoalan kota. Lagu ini menjadi satu-satunya track dengan kredit lirik CPX, Juanda, Reno Farid, dan Ukien Skins.
Kemudian ada “Hai! Nak” yang merupakan percakapan tentang hubungan ayah dan anak serta nilai-nilai yang ingin diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lagu ini 2berbicara tentang perjuangan, kesalahan dan harapan seorang bapak, dengan kehadiran Pearly, Chelsea dan, Ruby pada backing vocals yang memperkuat nuansa hubungan antara orang tua dan anak.

Disusul dengan focus track di dalam album ini yang bertajuk “Api Yang Pernah Kita Jaga”, bercerita tentang cinta, persahabatan, mimpi atau hubungan yang pernah diperjuangkan tetapi akhirnya harus dilepaskan. Ditulis oleh Ukien Skins, Andyan Gorust dan Endry Poison, lagu ini menjadi refleksi tentang kehilangan dan penerimaan terhadap sesuatu yang pernah memberikan kehangatan dalam hidup.

Masuk track ke-empat, “Janji Lelaki” berbicara tentang tanggung jawab, komitmen dan janji kepada diri sendiri untuk tetap berjalan meski keadaan tidak selalu mudah. Lagu ini menempatkan keberanian bukan sebagai ketiadaan rasa takut, melainkan kemauan untuk terus melangkah. Zuri Mandolina turut memberikan warna musikal melalui permainan mandolin.

“Membakar Malam” menangkap kegelisahan kehidupan kelas pekerja yang terjebak dalam rutinitas sehari-hari bekerja, menghadapi kemacetan, membayar kebutuhan hidup dan mengulang semuanya kembali. Di balik rasa lelah, overthinking dan mimpi yang mulai memudar, lagu ini menjadi dorongan untuk kembali merebut ruang bagi kehidupan dan mimpi yang ingin dijalani.

 

Single “Tiga” membawa SATYA dari persoalan personal menuju persoalan yang lebih luas, berbicara tentang manusia, kekerasan, ketidakadilan dan dunia yang semakin sulit dipercaya. Dengan energi drum Andyan Gorust, lagu ini hadir sebagai luapan kegelisahan tanpa berusaha memberikan jawaban sederhana terhadap berbagai persoalan yang diangkat.
Urutan ketujuh ialah “Darah Daging”, track ini direkam di Rintop Stidio. Berbicara tentang keluarga, perlindungan dan rasa marah ketika orang yang kita cintai mengalami ketidakadilan. Berangkat dari kisah seorang ayah yang menghadapi perundungan terhadap anaknya, lagu ini mempertanyakan sejauh mana seseorang akan bertindak demi melindungi keluarga sekaligus mempertahankan sisi kemanusiaannya.

“Semua Sodara (Piano Version)” menjadi penutup SATYA dengan pendekatan yang lebih sederhana dan reflektif. Lagu ini berbicara tentang kawan, scene, keluarga, perbedaan, perjalanan bersama dan mereka yang telah pergi, dengan Diva Azalia pada piano dan Arend Stevanus Michiels pada violin. Setelah seluruh energi dan konflik album, lagu ini mengembalikan pendengar pada satu gagasan sederhana: di balik segala perbedaan, kita semua adalah sodara.

Dengan delapan lagu tersebut, SATYA menjadi gambaran perjalanan manusia yang tidak selalu memiliki jawaban. Dari jalanan, keluarga, cinta, janji, rutinitas, kemarahan hingga kehilangan, TENHOLES mencoba merangkum berbagai sisi kehidupan tanpa melepaskan karakter punk rock yang menjadi identitas mereka.

Album ‘SATYA’ dari TENHOLES dirilis dalam format digital dan compact disc (CD), mulai 25 September 2026 melalui kerja sama dengan label rekaman demajors. SATYA sudah bisa didengarkan di seluruh digital streaming platform dan CD-nya bisa didapatkan melalui website www.demajors.com dan seluruh jaringan edar demajors.

(SPR)

Related posts

Interpol Gelar Konser di Meksiko Hadirkan 280 Ribu Penonton

AQK

AWICH Rilis Album ‘Okinawa Wuman’ Usai Jadi Nominator AMI Awards 2025 dengan Ramengvrl

Qenny Alyano

“Kasih Merintih” Soundtrack Film ‘Trinil : Kembalikan Tubuhku’, Garapan Musisi Malaysia Aina Abdul

Qenny Alyano

Leave a Comment