February 13, 2026
Image default
Event & CommunityWhat's New

Cerita Sri Hanuraga Kolaborasi dan Tur Bersama Musisi Korea Selatan

South Jakarta – Setelah menampilkan album solo terbarunya, ‘(De)Conception: (2023) di ICMC (International Computer Music Conference) yang diselenggarakan di Hanyang University, Korea Selatan, bulan Juli lalu, pianis/komponis Sri Hanuraga kembali menyambangi Korea Selatan untuk melakukan tur bersama Namyuol Cho Quartet. Tur berlangsung dari tanggal 23 hingga 30 Agustus 2024 yang lalu.

Pada kesempatan Ini grup modern jazz yang beranggotakan Namyuol Cho (drums), Janos Bruneel (bas), Daniel Mester (saksofon), dan Sri Hanuraga bermain di sejumlah klab jazz di Seoul dan Daegu: JazzxOver, Club Evans, Cotton Club, All That Jazz, Live Jazz Café Chunnyn, dan Various Concert Hall. Tur mereka ditutup oleh penampilan di festival Jongno in Jazz, di Seoul, Korea Selatan.

Selain konser, Sri Hanuraga juga mendapat sebuah komisi dari label BIC Music untuk menjadi penata musik dan pianis dalam sebuah album persembahan bagi grup musik cadas legendaris Korea Selatan, Sanulim. Pada album ini Sri Hanuraga mengaransir lagu berjudul It Might Have Been Late Summer yang akan dibawakan oleh Namyuol Cho Quartet bersama dengan penyanyi/produser asal Korea Selatan, Eaeon.

“Senang kembali bertemu dengan sahabat lama dan memainkan musik-musik yang sudah lama tidak dimainkan. Album Namyuol Cho Quartet di sana habis dibeli dan ada pemain-pemain jazz Korea Selatan yang mulai mempelajari permainan dan karya-karya original saya. Lalu ada satu kejutan, suatu siang, tiba-tiba salah satu pianis jazz favorit saya, Arron Goldberg, mengirim pesan di Instagram karena melihat saya di poster festival (mereka bermain di festival yang sama), kemudian ia bilang dia akan datang menonton. Ia benar-benar datang dan bilang senang sekali dengan permainan saya, ia bahkan menganjurkan untuk mengatur konser duo di Jakarta. Ia juga masih ingat dengan album-album saya yang ia dengar waktu di Bali,” ungkap pria yang disapa Aga.

Ini bukan pertama kalinya Sri Hanuraga tampil di Korea Selatan, sebelumnya ia telah melakukan tur dengan Namyuol Cho Quartet pada tahun 2012 dan 2018. Grup ini terbentuk tahun 2011. Ketika Sri Hanuraga menyelesaikan studi magisternya di jurusan Jazz Piano Performance di Conservatorium van Amsterdam, ia didapuk oleh Namyuol Cho untuk bergabung dengan grupnya dan merekam album pertamanya, ‘Sketches of The Old World.’

Album tersebut dirilis oleh label BIC Music pada tahun 2011. Untuk mempromosikan album pertamanya, grup ini tampil di Djarasum International Jazz Festival dan EBS TV. Penampilan mereka mendapat sambutan yang sangat baik. Kemudian tahun 2018 grup ini melakukan tur Korea Selatan mereka yang kedua dalam rangka peluncuran album kedua mereka,“Conservation Conversation.” Pada kedua album tersebut Sri Hanuraga tidak hanya berperan sebagai pianis, ia turut meyumbangkan beberapa komposisinya untuk direkam. Sri Hanuraga adalah pianis dan komponis yang memiliki latar belakang musik jazz. Karyanya menerabas sekat-sekat genre serta mengeksplor kebudayaan Indonesia dan humanisme digital.

Sri Hanuraga Kolaborasi dan Tur bersama Musisi Korea Selatan ( foto : istimewa )

Sri Hanuraga Kolaborasi dan Tur bersama Musisi Korea Selatan ( foto : istimewa )

“Di ICMC 2024 menarik sekali, karena bisa melihat komponis-komponis terdepan dunia menunjukan penemuan-penemuan mutakhir. Ternyata musik sudah berkembang sangat jauh sekali melebihi dari apa yang diketahui masyarakat umum, sayangnya temuan-temuan ini tidak terdiseminasi dengan baik karena
tidak ada ruang antara yang menjembatani yang eksperimental dengan populer,” jelas Aga.

Di luar kolaborasinya dengan berbagai Musisi kenamaan Indonesia dan mancanegara, ia juga berkolaborasi dengan seniman dari disiplin lain, antara lain penyair Goenawan Mohamad, performance artist Melati Soeryodarmo, pelukis Hanafi dan koreografer Josh Marcy. Selain membuat karya, ia juga merupakan seorang pendidik musik, sejak tahun 2015 ia bergabung sebagai pengajar UPH Conservatory of Music dan sejak tahun 2020 ia memimpin peminatan Jazz and Pop Performance. Dalam tur tersebut juga mengungkapkan banyaknya klab jazz di Seoul, Korea Selatan. Menurut Aga, klab jazz di sana proper dari segi peralatan maupun tempat. Setiap klub punya grand piano yang cukup baik.

“Yang mengejutkan, penonton selalu penuh walaupun di hari biasa, dan mereka dari kalangan muda. Mereka tidak enggan membayar tiket masuk dan mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman. Yang menarik juga adalah program dari klub jazz-nya, musik yang dimainkan rata-rata adalah karya original musisinya dengan gaya modern jazz, mereka bukan sekadar memainkan cover. Ini menurut saya ruang bertumbuh yang masih tidak dimiliki di Indonesia,” ungkap Aga.

Dengan terselenggaranya tur ini, Aga berharap jejaringnya dengan skena di Korea Selatan terbuka lagi, karena sebelumnya sejak 2018, dirinya mulai aktif dengan jejaring musisi Korea Selatan namun terkendala pandemi Covid.

“Dari jejaring ini saya juga berharap muncul saling silang referensi antara musisi Jazz Indonesia dengan Korea Selatan, saya ingin terjadi semacam decentering referensi, supaya jazz tidak selalu mengacu ke musisi Amerika saja. Saya tertarik untuk lebih menggali upaya-upaya berbagai musisi di Asia bernegosiasi dengan tradisi jazz,” harap Aga.

(SPR)

Related posts

Daftar Lengkap Pemenang Melon Music Awards (MMA) 2025

Qenny Alyano

Radhini Kembali Ke Dunia Musik, Single “Apa Kabar” Menjadi Pembuka

AQK

Marizka Juwita Rilis Versi Remix Lagu “No Love” Bersama Zeeko

AQK

Leave a Comment