April 5, 2026
Image default
Hot ReleasesWhat's New

Laufey Hadirkan Cover “Santa Claus Is Comin’ To Town” Sambut Libur Natal Tahun Ini

South Jakarta – Musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok peraih piala Grammy Awards, Laufey, kembali merayakan musim liburan dengan sentuhan khasnya lewat cover lagu klasik “Santa Claus Is Comin’ to Town.” Dengarkan lagunya di sini.

Musik Laufey telah menjadi bagian dari suasana natal dan liburan akhir tahun sejak 2021, ketika ia meluncurkan seri ‘A Very Laufey Holiday’. Dimulai dengan “Love To Keep Me Warm” yang ia rilis bersama dodie, lalu disusul oleh “The Christmas Waltz” di 2022, “Christmas Dreaming” di 2023, dan “Santa Baby” tahun lalu yang hadir bersama video klip yang menampilkan Bill Murray. Laufey juga menulis karya orisinalnya “Christmas Magic” secara eksklusif untuk Amazon Music yang kini turut dimasukkan dalam koleksi ‘A Very Laufey Holiday’.

Lewat interpretasinya kali ini, Laufey menghadirkan nuansa lembut dan magis khas dirinya, seolah mengajak pendengar masuk ke dunia musik yang hangat, klasik, dan penuh nostalgia. “Santa Claus Is Comin’ to Town” terasa seperti pelukan musim dingin yang menenangkan, elegan, dan personal.

Rilisan ini hadir setelah kesuksesan album terbarunya, ‘A Matter of Time’, yang dirilis bulan Agustus lalu dan mendapat sambutan luar biasa secara global. Album tersebut debut di posisi #4 Billboard 200 dan #1 di tangga Jazz Albums, memperlihatkan sisi Laufey yang semakin matang dan bebas bereksplorasi. Bekerja bersama produser Spencer Stewart dan Aaron Dessner (Taylor Swift, Ed Sheeran), Laufey menjadikan ‘A Matter of Time’ sebagai refleksi penuh emosi tentang cinta, pertumbuhan, dan penerimaan diri yang memperlihatkan keberanian sekaligus kelembutan yang telah menjadi ciri khasnya.

Laufey – A Very Laufey Holiday _ Single Artwork

Daftar lagu A Very Laufey Holiday’

1. Santa Claus Is Comin’ To Town

2. Santa Baby

3. Winter Wonderland

4. Christmas Magic

5. Christmas Dreaming

6. The Christmas Waltz

7. Love To Keep Me Warm (with dodie)

Tentang Laufey

Laufey (dibaca lāy-vāy) adalah musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok yang berhasil memikat generasi baru lewat lagu-lagu penuh kepekaan tentang cinta dan pencarian jati diri, dengan sentuhan pop yang diperkaya unsur jazz dan musik klasik. Ia menjadi penghubung lintas generasi, menjembatani karya-karya lama yang ia cintai dari Chet Baker hingga Carole King dan Ravel, lalu menerjemahkannya ke perspektif baru yang segar bagi pendengar muda. Semua ini adalah tujuan yang sejak awal ia tetapkan untuk dirinya, dan berhasil, melahirkan semesta musikal yang dikenal sebagai “Laufey Land.”

Dibesarkan di Reykjavík dan Washington, D.C., Laufey mulai belajar piano dan cello sejak kecil, sebelum melanjutkan pendidikan di Berklee College of Music. Di sanalah ia menulis EP debutnya, ‘Typical of Me’ (2021), dengan single “Street by Street” yang langsung menempati posisi No. 1 di radio nasional Islandia, awal dari sederet prestasi yang terus bertambah. Saat ini, Laufey telah mencatat lebih dari 5 miliar streams global, mengumpulkan 25 juta pengikut di media sosial, memecahkan rekor sebagai debut album jazz terbesar dalam sejarah Spotify, serta masuk Billboard Top 20 lewat albumnya ‘Bewitched’. Ia juga mengoleksi berbagai sertifikasi Platinum, masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30, serta dinobatkan sebagai salah satu dari TIME’s Women of the Year 2025. Laufey telah menjual habis tiket konser di panggung ikonik seperti Hollywood Bowl, Radio City Music Hall, dan Royal Albert Hall di London; tampil bersama orkestra ternama seperti LA Philharmonic, National Symphony Orchestra, dan China Philharmonic Orchestra; berbagi panggung dengan musisi seperti Jon Batiste dan Raye; serta berkolaborasi dengan nama-nama lintas genre mulai dari Beabadoobee hingga Norah Jones.

Kini lewat A Matter of Time’, Laufey semakin memantapkan warna musiknya yang khas, tetap berakar pada pengaruh klasik dan jazz yang ia cintai, namun kini lebih bebas dari batasan maupun pakem. “Aku terus memikirkan bagaimana cara melestarikan klasik dan jazz sekaligus memberi penghormatan,” ujarnya. “Tapi di album ini aku hanya ingin membiarkan hatiku mengembara.” Untuk mewujudkan visi tersebut, Laufey menggandeng dua produser yaitu Spencer Stewart, kolaborator lamanya di dua album terdahulu, dan Aaron Dessner (Taylor Swift, Ed Sheeran), sosok baru baginya namun dikenal sebagai produser yang mampu membantu artis membuka sisi terdalam mereka. Kebebasan artistik ini memberi ruang bagi Laufey untuk mengeksplorasi tema-tema yang lebih berat sekaligus menampilkan sisi personal yang lebih berani. “Orang-orang sering membayangkan façade indah pakaian feminin, kisah fantasi, dan musik romantis adalah aku,” katanya. “Tapi kali ini aku ingin menatap langsung bagian-bagian paling rapuh dalam diriku.A Matter of Time’, memperlihatkan Laufey di titik paling berani sekaligus sisi jenakanya, saat ia menangkap pengalaman tentang “cinta sejati” dalam berbagai bentuknya, dan bagaimana cinta itu mampu menelanjangi kita pada sisi kerentanan manusia yang terdalam.

Dalam proses penggarapan album ini, Laufey merasa lebih bebas dari sebelumnya. “Setiap album baru bagiku adalah seperti buku kosong berisi cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis,” ujarnya. Hal ini tercermin dalam perjalanan diskografinya ‘Everything I Know About Love (2022) ia isi dengan kisah coming-of-age tentang meninggalkan rumah, sementara ‘Bewitched’ (2023) yang meraih GRAMMY® menukik dalam pada pengalaman cinta muda. Dibungkus dengan aransemen orkestra megah, sentuhan bossa nova dan jazz, serta vokal altonya yang hangat, kedua album tersebut menegaskan Laufey sebagai bintang yang mampu membuat suara-suara dari masa lampau tetap terdengar abadi.
Awal tahun ini, Laufey juga meluncurkan The Laufey Foundation, sebuah inisiatif yang mendukung musisi muda khususnya lewat orkestra, agar dapat mengakses sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengembangkan potensi sepenuhnya. Sebesar $1 dari setiap tiket tur ‘A Matter of Time’, disumbangkan untuk yayasan ini.
Setelah sukses menggelar tur sold-out di Asia tahun lalu, termasuk di Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, dan Taipei, Laufey semakin memperkuat posisinya sebagai fenomena global. Popularitasnya juga tercermin dari performa streaming yang impresif, dengan Filipina, Indonesia, dan Malaysia masuk ke dalam daftar 10 pasar streaming terbesar Laufey di seluruh dunia.
(SPR)

Related posts

Nadin Amizah Hadirkan Warna Baru di Video Musik “Ah”

Qenny Alyano

The Lofty Ungkap Dinamika Hubungan Ambivalen di Single “Tanda Tanya’

AQK

HINDIA Rayakan 5 Tahun Album ‘Menari Dengan Bayangan’ Rilis Video di Pestapora

AQK

Leave a Comment