May 23, 2026
Image default
Hot ReleasesWhat's New

Laufey Hadirkan Anthem untuk Para Soft-Girl Masa Kini Lewat Single “Lover Girl”

South Jakarta – Penyanyi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok peraih Grammy Awards, Laufey, merilis single terbarunya yang berjudul “Lover Girl”. Lagu ini menjadi single ketiga menuju album ketiga Laufey yang sangat dinantikan, ‘A Matter of Time’, yang akan dirilis pada 22 Agustus mendatang melalui Vingolf Recordings / AWAL.

Melalui “Lover Girl”, Laufey mengajak pendengarnya menyelami rasa sepi saat merindukan seseorang yang kita cintai. “Bagian tersulit dari mencintai seseorang adalah saat harus berjauhan dengannya. Lagu ini bercerita tentang itu,” ungkap Laufey.

Dalam proses penggarapan ‘A Matter of Time’, Laufey merasakan ruang eksplorasi yang lebih luas dibanding sebelumnya. “Setiap menulis lagu untuk album baru rasanya seperti mengisi sebuah buku kosong yang menunggu cerita,” ujarnya. Kalimat ini terasa tepat, mengingat bagaimana Laufey selalu memasukkan pengalaman pribadinya ke dalam karya musiknya. Di album perdananya ‘Everything I Know About Love’ yang dirilis tahun 2022, ia menyusun kisah tentang tumbuh dewasa dan perasaan meninggalkan rumahnya di Islandia. Sementara pada album keduanya, Bewitched’, album yang dirilis tahun 2023 sekaligus membawanya meraih piala GRAMMY Awards® pertamanya, menyelami pengalaman jatuh cinta di usia muda secara utuh. Lewat aransemen orkestra yang megah, nuansa bossa nova dan jazz yang menyatu, serta suara altonya yang hangat, kedua album tersebut memperkuat posisi Laufey sebagai musisi yang mampu menghadirkan nuansa masa lalu dengan sentuhan kekinian.

Laufey Foto oleh: Emma Summerton

 

Melalui ‘A Matter of Time’, Laufey semakin mempertegas warna musiknya yang tetap berakar pada pengaruh klasik dan jazz, namun kali ini tanpa batasan. “Aku terus memikirkan bagaimana cara menjaga dan menghormati musik klasik dan jazz. Tapi untuk album ini, aku ingin membiarkan hatiku mengembara,” tuturnya. Untuk mewujudkan visi tersebut, Laufey bekerja sama dengan dua sosok produser musik yaitu Spencer Stewart, rekan lama yang terlibat dalam dua album Laufey sebelumnya, dan Aaron Dessner, produser yang dikenal lewat kolaborasinya bersama Taylor Swift di album ‘Folklore‘ dan ‘Evermore‘. Kehadiran Dessner sebagai produser album ini membawa warna baru dalam proses kreatif Laufey, dengan pendekatannya selama ini dikenal peka terhadap sisi emosional dari seorang musisi.

Kebebasan ini membuka ruang bagi Laufey untuk menggali tema-tema yang lebih kompleks dan personal. “Orang-orang mungkin membayangkan aku sebagai perempuan feminin yang memakai gaun cantik, menyanyikan kisah cinta romantis diiringi musik yang manis,” katanya. “Tapi kali ini, aku ingin melihat sisi paling cacat dalam diriku, dan menatapnya langsung di cermin.” Lewat album ini, Laufey menunjukkan keberaniannya untuk melihat cinta apa adanya bukan hanya yang indah dan romantis, tapi juga yang perasaan membingungkan, mengguncang, yang juga bisa mengantar kita pada sisi paling rapuh dalam kita sendiri. Dengan sentuhan yang sedikit jenaka dibalut warna musiknya yang khas, ‘A Matter of Time’ menjadi potret jujur tentang cinta dalam segala bentuk baik dan buruknya.

Artwork album ‘A Matter of Time’ – Laufey ( foto : istimewa )

Tentang Laufey

Laufey (dibaca lāy-vāy) adalah musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok yang berhasil memikat generasi baru lewat lagu-lagu penuh kepekaan tentang cinta dan pencarian jati diri, dengan sentuhan pop yang diperkaya unsur jazz dan musik klasik. Ia menjadi penghubung lintas generasi, menjembatani diskografi lama yang ia cintai dari Chet Baker hingga Carole King dan Ravel, kemudian ia menerjemahkannya dalam perspektif baru yang segar bagi pendengar muda yang kini telah terhubung begitu dalam dengan karyanya musiknya. Semua ini bukan kebetulan, melainkan tujuan yang sengaja Laufey tetapkan untuk dirinya sejak awal. Dari situlah lahir semesta penuh keajaiban yang dikenal sebagai “Laufey Land.”

Dibesarkan di Reykjavík dan Washington, D.C., Laufey mulai belajar piano dan cello sejak kecil, lalu melanjutkan pendidikannya di Berklee College of Music. Di sanalah ia menulis EP debutnya, ‘Typical of Me ‘(2021), dengan single “Street by Street” yang langsung menempati posisi No. 1 di radio nasional Islandia—pencapaian pertama dari sederet prestasi luar biasa yang menyusul. Kini, Laufey telah mencatat lebih dari 5 miliar streams secara global, mengumpulkan 25 juta pengikut di media sosial, memecahkan rekor sebagai debut album jazz terbesar dalam sejarah Spotify, dan menembus Billboard Top 20 lewat albumnya ‘Bewitched’. Ia juga meraih berbagai sertifikasi Platinum, masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30, serta dinobatkan sebagai salah satu dari TIME’s Women of the Year 2025. Ia juga telah menjual habis tiket konser di berbagai panggung ikonik seperti Hollywood Bowl, Radio City Music Hall, dan Royal Albert Hall di London. Ia tampil bersama orkestra ternama seperti LA Philharmonic, National Symphony Orchestra, dan China Philharmonic Orchestra; berbagi panggung dengan musisi seperti Jon Batiste dan Raye, serta berkolaborasi lintas genre dengan nama-nama seperti Beabadoobee hingga Norah Jones.

Di awal tahun ini, Laufey juga meluncurkan The Laufey Foundation yang bertujuan mendukung musisi muda khususnya lewat orkestra pemuda agar mereka bisa mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Sebesar $1 dari setiap pembelian tiket tur ‘A Matter of Time’ yang terjual akan disumbangkan ke The Laufey Foundation.

Setelah sukses menggelar tur sold-out di berbagai negara Asia tahun lalu, termasuk Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, dan Taipei, Laufey terus memperkuat eksistensinya di kawasan ini sebagai fenomena global. Popularitasnya tercermin dari performa streaming yang impresif, dengan  Filipina berada di posisi #2 dan  Indonesia di posisi #3 dalam daftar negara dengan jumlah streaming tertinggi untuk Laufey secara global.

(SPR)

Related posts

Steve Vai dan Joe Satriani Kolaborasi Rilis Single dan MV “The Sea Of Emotion”

AQK

Vokalis Element, Ferdy Tahier, Rilis Single Solo “Cintaku Tak Ada Yang Punya”

AQK

Girl Group Inggris, XO, Lepas Single Baru “Real Friends” Bersama Charli XCX

Qenny Alyano

Leave a Comment