South Jakarta – Band pop-rock The All-American Rejects resmi kembali dengan album terbarunya ‘Sandbox’ yang merupakan album pertama sejak terakhir rilis 14 tahun yang lalu. Kini dengan babak baru yang membawa energi dan perspektif baru, beserta kericuhan yang khas dengan The All-American Rejects.
Diproduksi oleh frontman Tyson Ritter, gitaris Nick Wheeler, dan Scott Chesak, karya ini menangkap versi The All-American Rejects yang paling percaya diri dengan kreativitas yang tidak tersensor. Dipandu oleh penulisan lagu Tyson, album ini menyeimbangkan ciri khas The All-American Rejects dalam membawakan reff yang mudah tersangkut di benak pendengar, dengan perspektif baru para anggota yang terbangun dari berjalannya waktu, perkembangan diri, dan juga ricuhnya menjadi seorang dewasa.
“Album ini menyentuh tema-tema tentang berdamai dengan masa muda, masa ketika kita akhirnya harus berdiri di atas kedua kaki kita sendiri sebagai orang dewasa, dan rasanya menghadapi dunia luar. ‘Sandbox’ telah membantu saya bertahan di zaman modernini – tidak hanya di tempat saya berada dalam hidup, tetapi juga di dunia.” unkap Tyson Ritter.
Pada dasarnya, album ‘Sandbox’ adalah bentuk rekonsiliasi dengan identitas, proses penuaan, pengalaman masa lalu, dan juga realita dari kehidupan dewasa yang penuh lika-likunya. Untuk pertama kali dalam karir mereka, The All-American Rejects tidak mengejar relevansi, tren, ataupun lagu hits di radio. Sebaliknya, mereka justru berpegang teguh pada kebenaran identitas mereka sebagai band punk rock kelas pekerja yang tidak pernah benar-benar cocok dengan skena musik yang ada namun dapat terus bertahan. Judul album ‘Sandbox’ dirasa mampu merefleksikan filosofi tersebut, yaitu tempat di mana apapun dapat dibangun, dihancurkan, atau ditemukan kembali.

Rilisnya album ini dilakukan di penghujung rangkaian tur viral mereka yang bertajuk ‘Mike’s Dirty Lemonade Presents The All-American Rejects House Party Tour’. Di tanggal rilisnya pada hari Jumat lalu, mereka mengadakan penampilan spesial di New York City yang spontan baru diumumkan di hari tersebut. Walau mendadak, The All-American Rejects tetap mampu mengumpulkan ratusan penonton.
Tur ini sendiri telah mengubah ruang-ruang yang tidak konvensional menjadi pengalaman live yang tak terlupakan bagi penonton. Dengan pemberhentian terunik belakangan ini yang termasuk sebuah sekolah menengah, rumah-rumah persaudaraan di kampus, dan bahkan kapal. Sejak diluncurkan tahun lalu, “House Party Tour” ini telah menjadi fenomena budaya yang mendefinisikan ulang pengalaman konser tradisional dengan membawa penggemar berhadapan langsung dengan band dalam suasana yang intim dan tak terduga.
Sepanjang karirnya, The All-American Rejects secara konsisten berkembang sebagai band yang terus membuat karya yang berbicara langsung, hati ke hati, kepada para pendengar melainkan bergantung pada tren. Album ‘Sandbox’ yang merupakan rilisan independen pertama mereka dan juga album pertama dalam 14 tahun, niat mereka untuk terus menjadi cerminan suara hati pendengar kian menjadi lebih kuat dibanding dulu. Album ini mereka niatkan untuk menjadi bentuk eksplorasi pengalaman khalayak umum dalam mencari identitas, mengembangkan diri, dan menjalani hidup sebagai orang dewasa yang disampaikan dalam lagu-lagu yang mengikat hati pendengar yang dibesarkan oleh lagu seperti “Gives You Hell” dan “Dirty Little Secret”.
Hampir dua dekade kemudian, kehadiran The All-American Rejects di kalangan penikmat punk-rock di Asia Tenggara tetap dinantikan. Saat ini Filipina dan Indonesia menjadi salah satu dari TOP 5 listening market teratas The All-American Rejects di seluruh dunia.

Tracklist album ‘Sandbox’:
1. Easy Come, Easy Go
2. Get This
3. Search Party!
4. Eggshell Tap Dancer
5. Green Isn’t Yellow
6. Sandbox
7. King Kong
8. Clothesline
9. Lemonade
10. For Mama
11. Staring Back At Me
12. Search Party! (Live From Medium Sized Backyard)
Tentang The All-American Rejects
Terbentuk pada tahun 1999 di Stillwater, Oklahoma, The All-American Rejects dengan cepat melejit sebagai sosok ikonik di dunia band pop-rock era awal 2000-an. Anggota inti bandnya – Tyson Ritter (vokalis dan bass) dan Nick Wheeler (gitar dan drum) – pertama membuat musik bersama sebagai dua remaja yang memadukan bait ikonik Tyson dan petikan gitar khas Nick. Album debut mereka, ‘The All-American Rejects’ (2002) mengenalkan suara khas mereka ke dunia, dengan lagu hit utamanya “Swing, Swing” yang membuat mereka menjadi mainstream dan menunjukkan kemampuan mereka menulis mengenai hal yang personal tapi universal di waktu yang bersamaan.
Seiring berjalannya waktu, The All-American Rejects terus berkembang dengan tetap memegang teguh inti emosional yang sejak awal mendefinisikan musik mereka. Album ‘Kids in The Street’ (2012) menitikberatkan keterbukaan mereka untuk mengeksplor tema dan gaya produksi yang beragam. Dikenal dengan penggemar yang setia dan video klip mereka yang ikonik, The All-American Rejects telah mengukuhkan posisi mereka di sejarah pop-rock walau terus beradaptasi dengan kancah musik yang terus berubah.
Bagi penggemar lama maupun baru, lagu-lagu mereka terus relevan – mau itu “Swing, Swing” atau “Gives You Hell” – perjalanan mereka jauh dari usai, dan komitmen mereka untuk terus menulis lagu yang bisa dinikmati fans terus mendefinisikan The All-American Rejects.
(SPR)
|

