South Jakarta – Grup beranggotakan enam orang asal Los Angeles, The Sophs, telah menjadi perbincangan sejak menandatangani kontrak dengan Rough Trade Records, berkat demo-demo mereka yang langsung dikirim lewat email dingin (cold email) kepada pendiri label Geoff Travis dan Jeannette Lee—bahkan sebelum mereka pernah tampil di panggung sekalipun.
Setelah merilis single lepas tahun lalu, yaitu ‘I’M YOUR FIEND’, ‘SWEAT’, dan ‘DEATH IN THE FAMILY’, serta menjalani tur dunia, kini The Sophs siap merilis album debut mereka, GOLDSTAR, yang akan dirilis pada 13 Maret 2026.
Lagu utama album ini, “GOLDSTAR”, dirilis hari ini. Lagu ini terdengar buas dan meledak-ledak, dengan nuansa latar musik yang kuat dan khas Latin. Lagu tersebut dilengkapi dengan video musik yang direkam dan disutradarai oleh kolaborator mereka, Eric Daniels.
Vokalis utama The Sophs, Ethan Ramon, menjelaskan:
“GOLDSTAR adalah gambaran tentang orang terburuk yang kamu kenal sedang berteriak kepada Tuhan, meminta tanda bahwa dirinya sebenarnya orang baik. Dengan pendekatan yang sengaja tidak terlalu serius, kami ingin lagu ini memancing pertanyaan yang sama dengan yang diangkat album ini: jika kamu adalah orang baik dengan alasan yang salah, apakah itu mengurangi kebaikanmu?”
Tur Dunia 2026
The Sophs akan menjalani tur besar sepanjang tahun 2026. Semua tanggal tur yang telah diumumkan dapat dilihat di bawah, dan tiket untuk seluruh pertunjukan utama sudah mulai dijual.
Selain konser utama di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa, mereka juga akan tampil di berbagai festival besar, termasuk: SXSW, Bandland Festival, Code Orange Festival, Primavera Sound (Barcelona & Porto), Bergenfest, OpenAir St. Gallen, Roskilde Festival, Eurockéennes Festival, Pohoda Festival, dan Treefort.

Tentang Album GOLDSTAR
Sikap yang sengaja “rusak”. Ethan Ramon tahu bahwa apa yang ia nyanyikan sering kali salah—namun bagaimana lagi cara mengeluarkan dorongan-dorongan itu?
“Kadang penting untuk menulis dari sudut pandang bagian terburuk dari dirimu sendiri, supaya versi itu bisa hidup di dalam musik, bukan di kehidupan sehari-hari,” kata Ramon.
Ini bukan dirinya—tapi juga bukan sepenuhnya bukan dirinya. Dan ia berani pergi ke wilayah yang kebanyakan orang tak berani sentuh.
Kejujuran brutal band ini, pikiran-pikiran invasif yang menyala-nyala, serta keberanian mereka menjelajahi berbagai genre langsung menarik perhatian Geoff Travis dan Jeannette Lee dari Rough Trade. Saat Ramon mengirimkan demo ke label indie favoritnya, ia sama sekali tak berharap mendapat balasan. Namun keesokan harinya, Travis dan Lee sudah menghubunginya dan mengajaknya berbincang.
Rough Trade menangkap kreativitas, keragaman, serta sikap “jangan harap aku tampil manis” yang membuat The Sophs—yang beranggotakan Ethan Ramon (vokal), Sam Yuh (keyboard), Austin Parker Jones (gitar elektrik), Seth Smades (gitar akustik), Devin Russ (drum), dan Cole Bobbitt (bass)—layak tampil di hampir panggung mana pun.
Dalam satu momen, The Sophs bisa masuk ke pop-punk; di momen lain, melaju kencang dengan funk; lalu berbicara-nyanyi langsung ke penonton. Antusiasme mereka terhadap setiap bentuk itu terasa jelas, dan suara Ramon yang kaya serta penuh karakter bisa masuk ke berbagai gaya musik—benar-benar seperti bunglon.
“Kami sebenarnya tidak pernah berniat untuk menjadi sefleksibel ini,” ujar Ramon.
Album GOLDSTAR memuat lagu bergaya Delta Blues, juga lagu yang terinspirasi dari ZZ Top. Dalam banyak hal, The Sophs memandang proses menciptakan lagu seperti seni pop: mengulang sesuatu terus-menerus sampai maknanya runtuh.
“Aku ingin mencuri, menjiplak, dan meminjam,” jelas Ramon.
Album ini mempertanyakan: Di mana bintang emasku? Di mana validasiku? Kenapa aku tidak diberi penghargaan atas kebaikan yang kulakukan? Apakah aku berbuat baik karena alasan yang benar?
Lagu “GOLDSTAR”, yang dibuka dengan petikan jari ala flamenco, bergulat dengan filosofi tentang apa artinya benar-benar menjadi orang baik—dan seperti apa wujudnya.
Sebagian besar lagu The Sophs tidak membiarkan pendengarnya merasa nyaman—karena kamu tak pernah tahu apa yang akan datang selanjutnya. Band ini menyukai kehancuran yang tiba-tiba dan total, serta bermain-main dengan ketegangan antara keheningan yang ditahan dan ledakan penuh energi.
Di sanalah karakter asli para personel The Sophs terasa: sangat positif, bahagia, dan kolaboratif. Sikap “degenerate posturing” ini bisa dianggap sebagai semacam hak istimewa badut. Saat mereka bermain ersama di satu ruangan, kamu tidak akan melihat karakter yang mereka tampilkan di lagu-lagu. Yang terasa justru energi bombastis dan mendebarkan—sumber kekuatan kreatif utama dari grup beranggotakan enam orang ini.
(SPR)

