September 10, 2026
Image default
Editor's PicksHot ReleasesWhat's New

Slipknot Rilis “Arsenal”, Single Baru Setelah 3 Tahun

South Jakarta – Band metal asla Iowa, Amerika Serikat, Slipknot, telah merilis “Arsenal”, lagu baru pertama mereka dalam lebih dari tiga tahun. Lagu yang bernuansa *anthem* ini hadir bersama video musik yang disutradarai oleh personil Slipknot, M. Shawn “Clown” Crahan, dan dibintangi oleh Jackson White.

“Arsenal” pertama kali diperdengarkan dalam segmen “Hottest Record” di program “New Music Show With Jack Saunders” di BBC Radio 1. Ini adalah karya musik baru pertama Slipknot sejak hengkangnya anggota lama Sid Wilson dan Craig Jones, serta keluarnya drummer Jay Weinberg dan masuknya Eloy Casagrande. Lagu ini juga menjadi rilisan pertama Slipknot di bawah label mereka sendiri, (sic)est Records, setelah berakhirnya kontrak rekaman grup tersebut yang telah berjalan selama dua setengah dekade dengan Roadrunner.

Saat berbicara dengan presenter BBC Radio 1, Jack Saunders, vokalis Slipknot, Corey Taylor, mengungkapkan pendapatnya tentang “Arsenal”: “Lagu ini menghantam dengan keras. Benar-benar sebuah pengalaman yang menghantam. Salah satu hal yang paling saya sukai adalah lagu ini merangkum segala hal yang kami lakukan. Ada momen-momen hiperaktif yang luar biasa, dan kemudian di bagian akhir, ada transisi (*drop*) yang sangat memukau yang menyempurnakan segalanya. Rasanya seperti kami sedang menjambak rambut semua orang dan berteriak, ‘Ayo! Ayo!’ Bagi saya, itu benar-benar menggambarkan esensi Slipknot seutuhnya.”

Kultur Slipknot telah menyebar jauh melampaui perkiraan siapa pun saat sembilan pria asal Iowa mengenakan topeng serta seragam, dan mulai menantang dunia untuk mengimbangi langkah mereka. Pengaruh band ini kini dapat dilihat dan dirasakan di kancah *underground*, pada para artis yang menjadi penampil utama di festival rock dan pop di seluruh dunia, serta hampir di semua ranah musik lainnya. Melintasi berbagai genre dan subgenre, para artis di seluruh dunia mengikuti jejak yang bermula dari wilayah Midwest AS hingga ke panggung-panggung dunia. Dan semua itu dilakukan tanpa sedikit pun kompromi terhadap siapa pun.

“Arsenal” mengerahkan hampir semua “senjata” yang dimiliki Slipknot: dinamika yang menghantam keras, vokal dan lirik yang tajam bak silet, suara kibor yang menyayat, serta *riff* gitar yang bobotnya seolah bisa diukur dalam hitungan ton. “Aku melawan dewa keparat dan dewa itu kalah,” seru Taylor sembari menggebrak lintasan lagu dengan sikap jemawa yang sadar diri; ia memadukan elemen metal, punk, dan bait-bait hip-hop sembari melontarkan raungan yang seolah bangkit dari lingkaran ketujuh neraka. Ia bersungguh-sungguh saat menepis beban tuntutan untuk sekadar mengejar tren dan melontarkan kata-kata tajam, “Aku tahu aku cuma musisi kacangan yang sudah habis masanya, tapi sialan, aku ini peluru kaliber .45, bukan sekadar senjata Mach 10,” namun ia juga tampak sedang bersenang-senang; hal serupa terjadi saat ia menghentikan lagu secara mendadak dengan pekikan keras, meneriaki rekan-rekan satu bandnya, dan menerjang dinding suara yang sebelumnya mereka bangun bersama. Lagu ini memiliki intensitas brutal yang padat dan terarah, yang memamerkan kekuatan dahsyat yang telah mereka asah sepanjang perjalanan karier mereka.

Setelah hampir tiga dekade berkarya, sungguh luar biasa bahwa Slipknot masih memiliki semangat, kreativitas, dan ikatan antar anggota yang dibutuhkan untuk menciptakan musik seperti ini. Perjalanan mereka menjadi salah satu band rock terbesar dan paling berpengaruh di abad ke-21 diwarnai oleh berbagai kesulitan; mereka berhasil melewati tragedi pribadi yang sangat berat dan menghadapinya secara langsung bersama para penggemar. Melalui semua itu, mereka tetap mempertahankan semangat juang yang memungkinkan mereka untuk terus berinovasi serta mengeksplorasi batas-batas ekstrem dari karakter musik mereka demi melihat sejauh mana mereka bisa melangkah lebih jauh.

Dalam lagu “Arsenal”, Slipknot terdengar lebih tajam dari sebelumnya—sebuah hasil nyata dari komitmen mereka yang menempatkan musik sebagai prioritas utama. Lagu ini merupakan pernyataan kekuatan yang tak terbantahkan dalam menghadapi segala tantangan, sekaligus menjadi penanda baru yang membuat dunia harus mengakui dan bertanya-tanya bagaimana Slipknot senantiasa—dan hingga kini tetap—menjadi sosok yang begitu vital dan relevan dengan zaman.

Related posts

DWP Kembali Digelar di Jakarta Desember 2026

Qenny Alyano

Grup Jepang, GENIC, Rilis Single “ENDER” Untuk Anime ‘Assassination Classroom’

Qenny Alyano

Nadin Amizah Rilis “Moonlight”, Pembuka Album Ketiga, ‘Laika, Yang Ditinggalkan’

Qenny Alyano

Leave a Comment