South Jakarta – Kalau sudah menyangkut band yang satu ini, sepertinya ada cerita yang tidak sesederhana ‘merayakan 20 tahun’. Di tengah usia yang seharusnya menjadi momen pesta dan nostalgia, for Revenge malah bikin penasaran lewat sederet pengakuan para personelnya. Mulai dari merasa ada yang hilang, harus mencari diri sendiri lagi, sampai ada yang terang-terangan bilang mungkin memang waktunya berhenti sejenak. Hmm… sebenarnya ada apa dengan for Revenge?
Apakah konser Titik Sadrah akan menjadi akhir dari sebuah era bagi for Revenge, atau justru menjadi pintu menuju perjalanan yang benar-benar baru? Pertanyaan ini rasanya wajar muncul setelah mendengar pengakuan para personel di tengah perayaan 20 tahun perjalanan for Revenge. Alih-alih hanya bicara soal perayaan, mereka justru membuka cerita tentang kehilangan, kelelahan, sampai rasa tidak utuh yang belakangan dirasakan di tubuh band.
Boniex, vokalis for Revenge, menjadi salah satu yang paling blak-blakan. Ia mengaku saat ini merasa for Revenge tidak lagi utuh, terutama ketika harus tampil tanpa Chimot. “Gue ngerasa enggak utuh lagi sih for Revenge, kayak ada yang hilang aja.”
Menurut Boniex, for Revenge bukan sekadar band atau nama yang berdiri di atas panggung. Ada kehidupan, mimpi, konflik, hingga pengorbanan para personel dan tim yang telah tumbuh bersama selama bertahun-tahun. Namun, ambisinya untuk membawa for Revenge terus melangkah lebih jauh justru membuatnya sadar bahwa dirinya telah berlari terlalu kencang.

Perasaan kehilangan itu juga dirasakan Chimot, drummer for Revenge, dari sisi yang berbeda. Cedera yang dialaminya membuat Ia merasa kehilangan dirinya sendiri. Setelah 20 tahun berjuang bersama for Revenge, Chimot merasa sudah waktunya untuk berhenti sejenak dan kembali mencari dirinya. “Gue perang di for Revenge itu 20 tahun. Jadi sisanya kayaknya fair deh buat gua cari diri gue sendiri lagi.”
Yang bikin suasana makin emosional, Aip, gitaris for Revenge, juga tak kuasa menahan tangis ketika membicarakan Chimot. Ia mengaku memiliki kedekatan yang cukup kuat dengan sang drummer sejak perjalanan mereka bersama for Revenge dimulai kembali pada 2016.
“Cukup dekat dari yang lain bareng Cimot,” ujar Aip sambil menangis.
Sementara Izha, bassist for Revenge, melihat perjalanan 20 tahun for Revenge kini mulai memasuki fase yang berbeda. Dengan para personel dan tim yang telah memiliki keluarga serta kehidupan masing-masing, mimpi mereka bukan lagi sekadar mengejar sesuatu yang lebih besar, melainkan bagaimana for Revenge bisa terus bertahan dan berkarya.

Di tengah situasi tersebut, Boniex bahkan mengakui bahwa mungkin sudah waktunya for Revenge berhenti sejenak. Bukan sekadar berhenti dari panggung, tetapi memberi ruang bagi masing-masing personel untuk memikirkan dan memperbaiki diri.
“Gue pribadi kayaknya ada kalanya harus berhenti dulu. Ada satu momen yang kita memang harus memikirkan diri sendiri dulu,” katanya.
Semua keresahan tersebut kemudian bertemu di konser Titik Sadrah pada 31 Oktober di Bandung. Bagi for Revenge, konser ini menjadi ajakan bagi para pendengar untuk kembali ‘pulang’ ke titik asal mereka, sekaligus membawa cerita dan kehilangan masing-masing.
Kali ini, Boniex justru merasa dirinya sendiri yang harus belajar merayakan kehilangan. Ia bahkan membayangkan for Revenge yang ‘usai’ kemudian kembali ke asalnya sebelum menjelma menjadi sesuatu yang baru.
Sementara Chimot menutup refleksinya dengan kalimat yang cukup bikin hati ikut sesak,
“Gue harus benar-benar rela. Sudahlah ya, sudahlah. Kali ini aku kalah.”
Nah, jadi sebenarnya Titik Sadrah ini mau jadi apa? Akhir sebuah era atau malah awal baru untuk for Revenge? Cari tahu jawabannya di Konser Titik Sadrah, yang tiketnya bisa kamu dapatkan melalui forrevenge.id. Karena siapa tahu, ini memang menjadi salah satu kesempatan terakhir untuk melihat for Revenge dalam bentuk yang selama ini dikenal.
(SPR)

