September 17, 2026
Image default
Hot Releases

Dialog Dini Hari Umumkan Album Baru, ‘Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi’

South Jakarta – Setelah hampir dua dekade perjalanan, Dialog Dini Hari kembali dengan album terbaru bertajuk ‘Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi’, yang akan dirilis secara digital pada 18 September 2026. Berisi delapan lagu, album ini lahir dari perjalanan panjang yang membawa Dialog Dini Hari melewati kehilangan, perubahan, pertemuan dengan orang-orang baru, hingga proses menemukan kembali rasa “rumah” di dalam tubuh band itu sendiri.

Judul Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi berangkat dari apa yang terjadi pada Dialog Dini Hari dalam beberapa tahun terakhir. Sejak era Tentang Rumahku, banyak hal berubah. Ada personel yang pergi, ada orang-orang baru yang kemudian ikut berjalan bersama, dan ada dinamika yang membuat band ini harus kembali mencari bentuknya.

“Banyak hal yang terjadi. Kehilangan personel, lalu mulai lagi dengan orang-orang baru. Dari situ muncul pikiran bahwa rasa rumah seharusnya bisa kita buat kembali utuh,” cerita Dadang SH Pranoto. “Akhirnya judul lagu Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi terasa mewakili keseluruhan album ini.”

“Rumah bisa menjadi tempat kita beristirahat, mengeluh, atau menjadi diri sendiri. Tapi kita juga bisa menjadi rumah buat orang lain. Di rumah kita seharusnya bisa lebih jujur, lebih telanjang. Apa pun yang terjadi di luar, rumah tetap menjadi tempat yang aman,” ujarnya.

Cara pandang tersebut ikut membentuk bagaimana delapan lagu dalam album ini dikerjakan. Setelah beberapa tahun banyak bereksperimen dengan bunyi dan sound design, kali ini Dialog Dini Hari justru memilih untuk menyederhanakan banyak hal dan kembali menempatkan songwriting sebagai pusat.

Pendekatan itu juga terdengar dari pilihan instrumennya. Tidak ada upaya untuk membuat lagu terdengar lebih besar dengan menumpuk banyak elemen di studio. Instrumen yang terdengar dalam album pada dasarnya adalah instrumen yang sama dengan yang dimainkan Dialog Dini Hari ketika berada di atas panggung.

Bagi Dadang, sebuah lagu mampu berdiri sendiri sebelum dibungkus oleh produksi. Karena itu, proses album ini dimulai dari lagu terlebih dahulu; aransemen dan musikalitas mengikuti setelahnya. Pendekatan tersebut mengingatkan kembali pada masa awal Dialog Dini Hari, ketika band menjadi ruang untuk belajar dan mengeksplorasi songwriting.

Proses rekaman Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi berlangsung di Uma Pohon Studio, Denpasar, dengan dukungan Black Sand Studio. Album ini direkam dengan pendekatan analog menggunakan Studer 963 keluaran 1983, dan pendekatan serupa diteruskan dalam proses mixing.

 

Credit Photo: Rosaria Ocha

 

Bagi Dialog Dini Hari, penggunaan perangkat analog bukan sekadar pilihan estetika. Keterbatasan dan karakter proses tersebut justru menjadi bagian dari cara mereka memainkan lagu-lagu ini.

“Apa yang dimainkan, itulah output yang kita dengar. Tidak banyak polesan. Semuanya lebih telanjang,” jelas Dadang. “Itu akhirnya ikut membentuk mental kami ketika merekam album ini.”

Delapan lagu di Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi bergerak melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan Dialog Dini Hari hari ini—rumah, kehilangan, hubungan antarmanusia, persahabatan, lingkungan, hingga apa yang terjadi di sekitar mereka. “Biarlah” turut menghadirkan Sugeng Wisnu dari White Swan sebagai kolaborator.

Lagu “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi” dipilih sebagai focus track sekaligus menjadi pintu utama menuju keseluruhan album. Menurut Dadang, lagu tersebut merangkum album ini sebagai satu kesatuan, baik secara tema maupun musikal.

Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi akan dirilis secara digital pada 18 September 2026 melalui Dialog Dini Hari. Edisi fisik dalam format vinyl, kaset, dan CD juga tengah dipersiapkan dan akan hadir menyusul, dengan vinyl dan kaset bersama Jajan Kaset serta CD bersama deMajors.

Setelah perilisan digital, perjalanan album akan dilanjutkan melalui video musik “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”, yang disutradarai oleh Indira Larin.

Bagi Dialog Dini Hari, album ini bukan tentang kembali ke masa lalu. Ia lebih dekat dengan proses menemukan kembali sesuatu yang sejak awal menjadi dasar mereka: menulis lagu, bermain bersama, dan membangun sebuah ruang yang cukup jujur untuk kembali disebut rumah.

 

All music arranged and performed by Dialog Dini Hari.

All lyrics written by Dadang Pranoto.

Dadang Pranoto (vocals, guitar), Deny Surya (drums), Kristian Dharma (bass), Awenghimawan (banjo, guitar).

Additional backing vocals by Elisa Wettstein. Percussion on “Napas Terakhir” by Palel Atmoko.

Recorded and mixed by Deny Surya at Uma Pohon Studio; mastered at Lengkung Langit Studio, Denpasar, Bali.

Recorded through a Studer 963 analog mixing console, with the support of Black Sand Studio.

Cover, layout, and photography by Elisa Wettstein.

Design and Illustration by Fauzan Bob

(SPR)

Related posts

Dinda Ghania, Gadis SMA dari Jakarta Rilis Lagu Berbahasa Inggris Ciptaan Sendiri “Unfinished”

AQK

SIEMENTS Angkat Realitas Urban Masa Kini Lewat EP ‘House of Vultures’

Qenny Alyano

Kolaborasi Indomusik Team & Mustafa DEBU Hadirkan “IMA (Insyaallah, Masyaallah, Astaghfirullah)”

AQK

Leave a Comment