South Jakarta -;Penyanyi pendatang baru Audry Krisvananda Tobing, yang akrab disapa Audry, resmi merilis karya perdananya melalui single debut berjudul “Berhenti Sejenak atau Selamanya?”. Lahirnya karya emosional ini merupakan hasil kolaborasi yang erat bersama BERDUA.
BERDUA adalah duo producer dan songwriter asal Indonesia yang terdiri dari Ricky Johanes dan Dimas Mufli Utomo. Terbentuk pada 10 Februari 2026, keduanya adalah multiinstrumentalis yang terlibat langsung dalam setiap proses dari menulis lagu, memproduksi, hingga memainkan instrumen dalam karya mereka.
Lewat kolaborasi bersama berbagai artist dan penyanyi, BERDUA menciptakan musik yang hangat, organik, dan emosional, dengan produksi modern serta eksplorasi yang tak dibatasi genre. Mereka hadir untuk merangkai cerita, menemukan warna baru, dan memberi ruang bagi setiap lagu untuk menjadi dirinya sendiri.


Pertemuan ketiganya di awal tahun 2026 menjadi titik mula di mana obrolan-obrolan sederhana bertransformasi menjadi sebuah ruang aman. Bersama Dimas dan Ricky, Audry akhirnya berani membuka cerita-cerita yang selama ini hanya ia simpan sendiri, hingga perlahan setiap rasa, keraguan, dan pertanyaan berubah menjadi sebuah lagu.
Bagi Audry, perempuan kelahiran Bali pada 20 Januari 2004, musik selalu menjadi tempat paling nyaman untuk bercerita, menuangkan isi kepala, dan menyusun perasaannya yang berantakan. Lewat dukungan dan sinergi bersama Dimas Mufli serta Ricky Johanes, “Berhenti Sejenak atau Selamanya?” hadir berangkat dari sebuah pertanyaan persimpangan: ketika rasa masih ada, apakah kita sedang bertahan karena memang masih ada harapan, atau hanya takut melepaskan? Lagu ini dirancang tidak untuk memberi jawaban, melainkan menjadi ruang bagi siapa pun yang pernah berada di persimpangan yang sama.
Dari sisi komposisi dan makna, “Berhenti Sejenak atau Selamanya?” dibalut sebagai sebuah elegi tentang dua insan yang saling merengkuh, namun berdiri di tanah yang perlahan runtuh. Lagu ini merekam detik-detik saat sebuah hubungan berjalan di balik bayang-bayang tanpa restu. Karya ini secara mendalam memotret kontradiksi antara hati yang keras kepala percaya bahwa cinta mampu menembus tembok setinggi apa pun, dengan jiwa yang lelah dan berbisik lirih: apakah kita sedang menggenggam harapan, atau hanya memeluk luka yang kita tunda?.
Karya kolaboratif ini ditegaskan bukan sebagai sebuah ratapan tentang perpisahan, bukan pula janji tentang akhir yang bahagia. Lagu ini dipersembahkan sebagai sebuah elegi bagi mereka yang terjebak di ruang remang sebuah fase ketika rasa sayang masih membumbung utuh, namun tak ada lagi tersisa lantai untuk berpijak.
Sakarang lagunya udah bisa kamu dengarkan di seluruh platform musik digital dan juga bisa di dengar di radio-radio di seluruh Indonesia.
(SPR)

