South Jakarta – Jika seseorang sedang berkutat dengan rasa takut, pada umumnya ia akan bercerita ke orang kepercayaannya, menuliskannya di jurnal, atau dipendam sekalian. Lain halnya dengan Bernadya. Penyanyi dan penulis lagu asal Surabaya tersebut malah menuangkan berbagai ketakutannya seputar cinta ke dalam album penuh keduanya, ‘Semoga Hanya di Mimpi’.
Dirilis oleh JUNI Records ke platform-platform musik digital pada 24 Juni 2026 dengan format kaset dan CD segera menyusul, ini adalah karya solo terbaru pertama Bernadya sejak ‘Sialnya,Hidup Harus Tetap Berjalan’, album penuh perdananya yang sukses meroketkan namanya dan meraih tiga piala AMI Awards 2024.
“Semoga Hanya di Mimpi’ lahir dari ketakutanku akan rasa tenang, pemikiran yang aneh, memang, tapi bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya. Aku pertama kali menemukan kalimat ‘Semoga Hanya di Mimpi’ karena baca artikel tentang cherophobia, ketakutan akan kebahagiaan karena takut di balik kebahagiaan itu ada sesuatu yang buruk,” kata Bernadya. “Berbeda dari proses pembuatan album sebelumnya, kali ini albumku lahir saat tidak ada momen yang begitu besar atau spesial dalam hidupku. Jadi semua berjalan normal dan baik-baik saja, hidupku seperti menjalankan rutinitas normal. Tapi justru di saat seharusnya bisa menikmati ketenangan dan bahagia dengan apa yang kudapat dan kucapai dari usahaku, entah kenapa rasanya selalu waswas karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar dan enggak aku inginkan.”

Dalam menuangkan rasa takut itu ke dalam lagu, Bernadya pun harus mengatasi ketakutan saat menulis lirik. “Sempat berpikir untuk menulis ulang beberapa lirik di lagu ‘Laut yang Tenang’ karena takut hal-hal buruk yang kusebutkan di lagunya jadi doa, tapi rasanya lirik yang keluar pertama itulah yang benar-benar ingin kutuangkan,” katanya.
Proses pembuatan ,’Semoga Hanya di Mimpi: melibatkan beberapa produser dan penulis lagu yang berkarya dengan Bernadya untuk pertama kali: Enrico Octaviano yang menggarap “Sebelum Jadi Panjang” serta “Laut yang Tenang” yang juga memuat kontribusi penulisan dari Baskara Putra; Dennis Ferdinand yang mendampingi grup Perunggu untuk kolaborasi “Peluk Aku Sekarang!”; dan Vega Antares yang membuat pengerjaan “Menyenangkan Mengenalmu” semakin menyenangkan sebagai sesama anak Surabaya.
Selain itu, Rendy Pandugo dan Petra Sihombing – yang masing-masing telah bekerja dengan Bernadya sejak album mini Terlintas dan album penuh ‘Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’, kembali turun tangan, dengan Rendy menangani“Lawan Waktu dan Jarak”, “Rabun Jauh”, “Tolong Bilang Ini Mimpi” dan “Belum Sempat Kenal”, sedangkan Petra bertanggung jawab atas “Wanita Tak Punya Malu” dan “Kita Buat Menyenangkan”.
Tentu saja dengan adanya banyak rekan kerja baru, ada banyak adaptasi yang harus terjadi saat berkarya.
“Ini pertama kalinya bekerja dengan banyak produser baru dan harus menulis lagu dari nol. Aku harus menyesuaikan gaya penulisanku dengan cara kerja mereka, dan mereka juga harus menyesuaikan dengan caraku menulis dan bekerja,” kata Bernadya.

“Kalau dengan Mas Petra dan Mas Rendy, aku sudah mengerti cara kerja mereka dan bahwa proses kreatif kadang tak bisa dipaksakan. Tapi dengan Perunggu, entah apa karena mereka dulu orang kantoran, cara menulisnya kayak enggak ada jeda. Mereka selalu punya ide, dan lagunya selesai dalam dua jam.”
Semua kolaborator ini turut berperan dalam mewujudkan estetika bunyi di Semoga Hanya di Mimpi yang terpengaruh musik Indonesia awal 2000-an dengan menonjolkan suara instrumen organik ditambah sedikit sentuhan elektronik.
Menurut Bernadya, “Aku penasaran dengan era itu, apalagi ada sedikit nuansa musik 2000-an di lagu ‘Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’ dan banyak yang suka. Selama bikin Semoga Hanya di Mimpi, aku juga sering dengar album 18 dari Audy.”

Alhasil, ‘Semoga Hanya di Mimpi’ memang terdengar berbeda dibanding Terlintas maupun Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Tapi ini tetap album yang sangat Bernadya berkat vokal lembutnya yang sudah ditempa banyak panggung di seluruh Indonesia dan bahkan luar negeri, serta liriknya yang selalu mampu menemukan cara berbeda namun tetap tajam untuk menceritakan hal lumrah. (“Sampaikan pada ibumu/Terima kasih sudah baik, meski tetap tak terimaku”? Ampun.)
Berdasarkan apa yang pernah diraih :Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’, bukan tak mungkin jika ‘Semoga Hanya di Mimpi’ akan menemukan kesuksesan serupa di kehidupan nyata dan bukan di mimpi saja. Tapi untuk saat ini, Bernadya akan cukup puas jika album terbarunya ini bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi siapa pun yang mendengarkan.
“Harapanku adalah semoga album ini sampai ke
telinga-telinga yang tepat dan baik untuk siapa pun yang mendengarnya,” katanya. “Semoga semua hal menyedihkan dan menakutkan yang kamu dengar di lagu-lagunya hanya ada di mimpi. Selamat menikmati.”
Album terbaru Bernadya, :Semoga Hanya Di Mimpi:, kini bisa didengarkan hari ini di layanan digital streaming platforms seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music dan lain-lan.
(SPR)

