South Jakarta – Menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November, sebuah diskusi di @america, Jakarta, mengangkat kembali kisah sejumlah tokoh yang belum banyak dikenal, yang keberanian dan pengorbanannya turut menopang perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Diskusi bertajuk Lost Flight RI-002: An American, an Indonesian, and a Flight for Freedom pada Kamis (5/11) berangkat dari memoar RI-002: Flying for Our Freedom, karya penerbang Indonesia Petit Muharto Kartodirdjo. Buku ini mengisahkan pengalaman pribadinya selama Revolusi Indonesia (1945–1949), termasuk berbagai misi penerbangan berisiko tinggi dan persahabatannya dengan Bobby Earl Freeberg, mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat asal Kansas yang turut membantu perjuangan Republik.
Kisah mereka merupakan cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan persahabatan yang melampaui batas negara. Ketika Republik menghadapi ofensif militer Belanda dan berbagai pembatasan transportasi, pesawat seperti RI-002 menjadi penghubung penting antara wilayahwilayah Republik dan dunia luar, mengangkut orang, perbekalan, serta berbagai muatan penting. Pada 17 Oktober 1947, Freeberg juga menerbangkan RI-002 dalam operasi penerjunan pasukan pertama Angkatan Udara Republik Indonesia di Kalimantan.
Namun, kisah tersebut menyimpan sebuah misteri. Pada 1 Oktober 1948, RI-002 hilang dalam penerbangan di Sumatra, bersama Freeberg dan sejumlah personel Indonesia di dalamnya. Petit tidak ikut dalam penerbangan terakhir tersebut. Selama puluhan tahun setelah kehilangan sahabatnya, Petit terus berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menelusuri berbagai informasi dan mencurahkan banyak waktunya untuk menyelidiki misteri tersebut. Meskipun puing pesawat ditemukan beberapa dekade kemudian, penyebab pasti hilangnya RI-002 masih menyisakan pertanyaan.
Mengenang Sosok-Sosok di Balik Sejarah
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif berbeda: Lala Karmela, penyanyi, aktris, dan cucu Petit Muharto Kartodirdjo; Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara dan penerbang C-47 Dakota; serta Asep Kambali, sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia.
Melalui perspektif keluarga, penerbangan, dan sejarah, diskusi ini mengajak hadirin memahami pengalaman manusia di balik perjuangan kemerdekaan, peran penting penerbangan pada masa revolusi, dan tantangan dalam menelusuri peristiwa sejarah yang belum sepenuhnya terungkap
Bagi Lala Karmela, membaca memoar kakeknya telah mengubah cara pandangnya terhadap sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang dahulu hanya dikenalnya sebagai bagian dari pelajaran sekolah kini menjadi lebih bermakna melalui kisah pribadi orang-orang yang mengalaminya.
“Sejarah bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami mengapa hal itu terjadi. Dan terkadang, untuk memahaminya, kita membutuhkan sebuah cerita,” ujar Lala Karmela, dalam pernyataannya yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Ia juga merefleksikan keberanian kakeknya, yang masih berusia dua puluhan ketika menjalankan misi-misi penerbangan untuk Republik, serta semangat generasi muda Indonesia yang menurutnya tetap hidup hingga hari ini. “Sekarang saya melihat anak-anak muda yang juga berusia dua puluhan, dan semangat mereka untuk Indonesia masih sangat kuat. Jadi, ada sesuatu yang tidak berubah di negara kita.”


Chappy Hakim, yang memiliki pengalaman langsung menerbangkan C-47 Dakota, memberikan perspektif tentang tantangan dan risiko yang dihadapi para penerbang pada masa itu. Namun, ia menekankan bahwa nilai buku tersebut tidak terbatas pada sejarah penerbangan dan misteri hilangnya RI-002.
Menurut Chappy, kisah Petit dan Freeberg juga menggambarkan “hubungan manusia dengan manusia yang tidak mengenal ras, tidak mengenal bangsa, tidak mengenal apa pun.” Ia turut menyoroti pentingnya dokumentasi sejarah dan pelestarian arsip agar pengalaman generasi terdahulu tidak terlupakan.
Sementara itu, Asep Kambali menekankan pentingnya mengenang individu-individu yang kontribusinya belum mendapat tempat dalam narasi sejarah yang lebih luas.
“Kemerdekaan itu tidak turun dari langit, tapi melalui Freeberg dan Petit kita tahu bahwa ternyata kemerdekaan itu diperjuangkan di atas langit,” ujar Asep Kambali.
Ia juga menyerukan agar kisah orang-orang yang berjasa besar, meskipun namanya kurang dikenal, menjadi bagian dari memori kolektif bangsa. “Dengan hadirnya buku ini, saya kira ini amat penting untuk menegaskan bahwa ada orang-orang kecil yang punya jasa besar bagi bangsa ini dan harus jadi memori kolektif bangsa.”
Persahabatan, Pengakuan, dan Warisan Antargenerasi
Diskusi semakin memperkaya perspektif sejarah ketika Tamalia Alisjahbana, penulis dan pegiat pelestarian warisan budaya, turut berbagi pengalamannya dalam menelusuri dan memperkenalkan kisah Freeberg dan Petit melalui sebuah pameran sejarah. Tamalia menekankan bahwa kisah tersebut mencerminkan persahabatan tidak hanya antara dua individu, tetapi juga antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat. Ia menyampaikan harapannya agar kontribusi kedua penerbang memperoleh pengakuan resmi.
“Ini adalah kisah persahabatan antara dua bangsa dan dua masyarakat. Secara pribadi, saya berharap pemerintah Indonesia memberikan penghargaan berupa medali kepada Petit Muharto dan Bobby Freeberg,” ujarnya, dalam pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Salah satu kisah yang paling menyentuh dalam diskusi datang dari Eko, putra Petit Muharto
Kartodirdjo, yang menceritakan perjuangannya selama 26 tahun untuk mewujudkan
penerbitan naskah peninggalan ayahnya. Upaya tersebut merupakan janji yang dibuatnya
setelah Petit meninggal dunia pada tahun 2000. Buku itu akhirnya terbit pada 2026, setelah
melewati berbagai tantangan dalam proses penerbitan dan penelitian lanjutan. Hari Pahlawan, yang diperingati setiap 10 November, menjadi momentum untuk mengenang tidak hanya tokoh-tokoh besar dalam sejarah Indonesia, tetapi juga banyak individu yang kontribusinya belum mendapat perhatian luas.
“Hari Pahlawan merupakan kesempatan untuk mengenang bukan hanya tokoh-tokoh besar
dalam sejarah kita, tetapi juga banyak individu yang kisahnya belum banyak dikenal. Melalui
penerbitan memoar Petit, kami berharap dapat melestarikan salah satu kisah tersebut dan
mengajak generasi baru mengenal orang-orang luar biasa di balik kemerdekaan Indonesia,” ujar
Kabar Media Books, penerbit buku tersebut.
Lebih dari sekadar misteri hilangnya sebuah pesawat, kisah RI-002 mengajak masyarakat
merenungkan pertanyaan yang relevan menjelang Hari Pahlawan: Kisah kepahlawanan siapa yang selama ini luput dari perhatian kita?
Melalui kenangan seorang penerbang yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan,
RI-002: Flying for Our Freedom mengajak generasi kini untuk kembali mengenal orang-orang, persahabatan, dan pengorbanan yang turut membentuk sejarah Indonesia.
Tentang Buku
RI-002: Flying for Our Freedom merupakan memoar Petit Muharto Kartodirdjo, diterbitkan oleh Kabar Media Books bekerja sama dengan Pelopor Books. Buku ini memadukan pengalaman pribadi Petit selama Revolusi Indonesia dengan materi penelitian sejarah dan dokumen arsip.
(SPR)

