April 15, 2026
Image default
GearsicianHot Gear

Edi Kemput: Perjalanan Musik, Dari Festival Musik Sampai Putuskan Hijrah

South Jakarta – Di tengah industri musik yang kerap terjebak pada romantisme panggung dan glorifikasi popularitas, Triwitarto Edi Purnomo—atau Edi Kemput—hadir sebagai figur yang melampaui batas estetika bunyi.  Gitaris rock papan atas Indonesia ini memaknai musik bukan sekadar ekspresi seni, tetapi sebagai wadah kepedulian, ruang refleksi, dan tanggung jawab moral seorang seniman terhadap sesama dan negaranya.

Lahir di Samarinda, 10 April 1966, Edi Kemput tumbuh bersama denyut perubahan musik Indonesia sejak awal 1980-an. Perjalanan musikalnya dimulai sejak SMP kelas 2, ketika musik masih ia dekati secara polos dan jujur.

“Lagu pertama yang saya mainkan itu lagu anak-anak—Naik-naik ke Puncak Gunung,” kenangnya sambil tersenyum saat di wawancarai wartawan (27/12/2025).

Dari situ, jari-jarinya mulai akrab dengan akor, hingga suatu hari memainkan lagu ciptaan Rinto Harahap yang dipopulerkan Hetty Koes Endang—fase awal yang perlahan menuntunnya ke dunia musik yang lebih kompleks.

Dari Instrumen ke Rock: Proses yang Organik

Memasuki SMA Negeri 2 Surabaya, Edi mulai bersentuhan dengan musik instrumen yang kala itu menjadi tren di kalangan pelajar musik. Sosok Budjana dan band Squirrel menjadi referensi kuat. Bersama rekan-rekannya, ia memainkan karya-karya Indra Lesmana, Alfonso Mouzon, hingga Casiopea.

“Kalau dibilang jazz terlalu luas. Kami menyebutnya lagu-lagu instrumen,” ujar Edi Kemput.

Selepas SMA, Edi sempat menempuh pendidikan di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, jurusan Ilmu Komunikasi (Jurnalistik). Namun dunia kampus tak mampu menahan lajunya di musik. Ia tidak menyelesaikan studi—karena pada saat yang sama, pintu industri musik mulai terbuka.

Edi Jemput ( foto : istimewa )

Grass Rock dan Ledakan Era Festival

Titik balik datang pada 1984, saat Edi bergabung dengan Grass Rock, band yang kemudian menjelma menjadi salah satu ikon rock Indonesia. Nama “Grass Rock” menyimpan filosofi tersendiri: grass dimaknai sebagai sesuatu yang tumbuh di mana saja—harapan agar musik mereka dapat diterima lintas lapisan sosial.

Grass Rock menempuh jalur keras: festival ke festival. 

Mereka mencatat prestasi penting di Festival Log Zelebour, Festival KMSS Jakarta, hingga akhirnya meraih Juara 1 Log Zelebour 1986. Prestasi individual pun mengiringi:

Edi Kemput – The Best Guitarist (1985 dan 1987)

Rere – The Best Drummer (beberapa tahun berturut-turut)

Mandau Dayan Rere – The Best Keyboardist

Puncaknya, Grass Rock dipercaya menjadi band pembuka tur God Bless di 10 kota Indonesia—sebuah legitimasi tak tertulis bahwa mereka telah masuk jajaran elite rock nasional.

Album, Hit, dan Identitas Musikal

Grass Rock merilis lima album dan dua single. Album debut mereka ‘Peterson (Anak Rembulan)’ diproduksi oleh Ian Antono di bawah label Atlantic Records. Lagu-lagu ciptaan Edi Kemput seperti “Peterson (Anak Rembulan)”, “Prasangka”, dan “Bersamamu” menjadi penanda identitas musikal band: melodis, progresif, dan sarat emosi. Lagu “Bersamamu” diciptakan bersama almarhum Dayan Zmach, sementara “Peterson” menjelma menjadi lagu lintas generasi yang berkali-kali diremaster.

Pada masanya, Grass Rock berdiri sejajar dengan nama-nama besar seperti God Bless, SAS, Makara, Elpamas, dan AKA.

Nama Edi Kemput tak berhenti di Grass Rock.Ia dikenal sebagai gitaris yang diperhitungkan dan kerap menjadi additional player lintas genre, terlibat dalam berbagai proyek besar bersama: Erwin Gutawa Orchestra, Aminoto Kosim Orchestra, Adi MS – Twilite Orchestra, Andi Rianto – Magenta Orchestra, Chrisye, Krisdayanti, Titik DJ, Ruth Sahanaya, Ari Lasso, hingga Iwan Fals & Iwang Noorsaid Band. Kolaborasinya bersama Iwan Fals dalam album Orang Gila menunjukkan fleksibilitas musikal Edi—dari rock keras hingga pop progresif kontemporer.

“Yang paling mempengaruhi saya itu Erwin Gutawa. Dia membuka cara pandang bermusik yang lebih luas,” tuturnya.

Edi Jemput ( foto : istimewa )

Hijrah: Titik Balik Kehidupan

Namun hidup Edi Kemput tidak berhenti pada panggung dan tepuk tangan.  Di balik citra rocker—yang kerap dilekatkan pada alkohol, narkoba, dan gaya hidup hedonis, ia mengalami titik jenuh. Tahun 2003 menjadi momentum perubahan.

“Capek. Jiwa capek,” katanya singkat.

Latar keluarga religius, ibunya aktif dalam kegiatan Nahdlatul Ulama, menjadi jangkar yang menahannya dari kehancuran total. Pernikahan dan kehadiran keluarga menjadi cermin. Perlahan, Edi meninggalkan dunia gelap. Ia berhijrah.

Dari Panggung ke Lapas

Transformasi itu tidak berhenti pada diri sendiri.  Edi kini aktif berbagi ke lapas, komunitas punk, dan kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Ia tidak menggurui. Ia berbagi pengalaman hidup.

“Bukan tausiah, tapi sharing,” ujarnya merendah.

Ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial-keagamaan, termasuk Hijrah Fest Palu 2018, serta kajian musisi hijrah di berbagai masjid.  Baginya, musik dan iman tidak harus saling meniadakan.

Musik, Kepedulian, dan Keikhlasan untuk Sesama

Dalam berbagai momentum solidaritas, termasuk kepedulian untuk saudara-saudara di Sumatera yang tertimpa musibah, Edi menegaskan bahwa musik seharusnya hadir sebagai jembatan empati, bukan sekadar seremoni.

“Yang paling penting bukan seberapa besar nilainya, tapi seberapa ikhlas kita berbagi. Di mata Allah, keikhlasan jauh lebih berharga daripada angka,” ujarnya.

Baginya, musik yang dipersembahkan dengan niat tulus untuk meringankan beban sesama adalah bentuk ibadah sosial. Ia menolak menjadikan penderitaan orang lain sebagai alat pencitraan atau kepentingan kelompok.

Pesan Tegas kepada Negara

Edi Kemput juga menyampaikan kritik terbuka kepada pemerintah sebagai pengelola negara. Menurutnya, bencana yang berulang tidak selalu murni kehendak alam, tetapi sering kali lahir dari ketidakjujuran, kelalaian, dan pengelolaan yang tidak amanah.

“Pemimpin harus jujur dan amanah. Kalau tidak, yang selalu menjadi korban adalah rakyat,” tegasnya. Jabatan, bagi Edi, adalah titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan—bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan.

Edi Jemput ( foto : istimewa )

Nada yang Tidak Pernah Padam

Kini, di usia hampir 60 tahun, Edi Kemput masih memainkan gitar. Namun distorsi itu kini berpadu dengan kesadaran, empati, dan tanggung jawab sosial.

Di tengah negeri yang terus diuji oleh bencana dan krisis kepercayaan, suara Edi Kemput menjadi pengingat bahwa musik, iman, dan keberpihakan pada kemanusiaan seharusnya berjalan seiring—bukan sebagai topeng, melainkan sebagai komitmen hidup.

“Sebagai musisi atau seniman sebaiknya kita jangan hanya berteriak pada kepentingan golongan atau komunitas saja. Memiliki empati juga harusnya luas karena kita punya hati nurani sebagai manusia untuk berbagi pada segala hal, ” tutup Edi Kemput.

Tulisan : Beng Aryanto

(SPR)

Related posts

KULINERAN : Gitar Fender Telecaster FSR Limited Edition American Standard Rustic Ash

Angga Foster

Merayakan Kreativitas Musik, Kecintaan Pada Gitar dan Berjejaring di ESP LTD DAY

AQK

Paul Gilbert Ungkap Keadaan Mr. Big Menuju Akhir Tur Panjang

AQK

Leave a Comment