South Jakarta – Mungkin, untuk bisa pulang, seseorang memang harus pergi terlebih dahulu. Jauh, ke mana saja, kepada siapa saja. Mencari jawaban di tempat-tempat yang mungkin tidak pernah benar-benar bisa memberikannya. Lewat ‘ANYWHERE BUT HOME’, EP perdana dari EVE, perjalanan itu dimulai.
Ada banyak alasan untuk pergi. Ada cinta yang tidak lagi terasa seperti tempat untuk tinggal. Ada rumah yang, dalam segala arti dan kerumitannya, justru membuat seseorang ingin menjauh. Ada pula dunia yang terus-menerus memberitahu kita bagaimana seharusnya hidup.
Maka EVE pergi dan mencoba mencari jawabannya di mana-mana, anywhere but home. Namun, ketika perjalanan itu berakhir, EVE tidak menemukan sebuah jawaban yang dapat menjelaskan semuanya.
Ia hanya menyadari satu hal: aku tidak marah-marah lagi.
Lagu dengan judul yang terdengar hampir seperti sebuah pernyataan sederhana tersebut menjadi tempat seluruh perjalanan dalam ANYWHERE BUT HOME akhirnya bertemu. Bukan sebagai akhir yang rapi. Tidak pula sebagai tanda bahwa semua luka telah selesai.
Masih ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki. Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah menemukan jawabannya. Orang, tempat, dan sistem yang tetap saja mengecewakan. Tapi sesuatu bergeser ketika EVE tidak lagi membawa kemarahan itu sebagai sesuatu yang harus ia genggam.

“Aku Tidak Marah Marah Lagi lahir dari kesadaran bahwa aku sudah lelah marah,” ujar EVE. “Bukan karena semuanya jadi baik-baik saja. Tapi karena ada titik di mana aku sadar, kalau aku terus membawa itu, aku juga tidak akan bergerak ke mana-mana.”
Di titik itu, ANYWHERE BUT HOME menemukan bentuknya.
“Rumah yang membawaku pergi, membawaku pulang lagi.”
Rumah tidak selalu sesuatu yang ditinggalkan. Kadang, ia justru menjadi titik awal dari kepergian itu sendiri; dari luka yang mendorong kita menjauh, dari pertanyaan yang tidak bisa dijawab saat kita masih berada di dalamnya. Dan mungkin, setelah melihat dunia dari jarak yang berbeda, kita bisa kembali; bukan untuk mengulang, tapi untuk memahami.
Dengan begitu, ANYWHERE BUT HOME bukan sekadar pencarian tempat lain untuk pulang. Ia adalah kesadaran bahwa menjauh pun bisa menjadi bagian dari pulang itu sendiri.
Sebelum memperkenalkan EVE kepada publik, Ivana Anastasia menghabiskan hampir delapan tahun bekerja di balik layar industri musik. Ia membantu membawa cerita orang lain ke permukaan, sebelum akhirnya kembali pada suaranya sendiri.
Dan mungkin, ANYWHERE BUT HOME adalah cara EVE akhirnya muncul ke permukaan. Bukan dengan jawaban, tapi dengan perjalanan menuju jawaban itu sendiri. Dan setelah pergi ke mana-mana, satu hal yang tersisa adalah ini: aku tidak marah-marah lagi.
ANYWHERE BUT HOME oleh EVE tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 21 Agustus 2026.
Tentsng EVE
EVE adalah penyanyi-penulis lagu independen asal Jakarta dengan nama asli Ivana Anastasia, yang menghadirkan musik bernada gelap, tenang, dan jujur tanpa usaha berlebihan. Menjelang berakhirnya usia dua puluhannya, EVE memilih kembali ke akar bermusik setelah berkecimpung lama di balik layar industri musik. Karya-karyanya lahir dari emosi yang lama dipendam dan keheningan yang sering tak terdengar, dengan pendekatan reflektif yang jujur – meski sesekali ironis.
(SPR)

