South Jakarta – Selama 12 tahun terakhir, nama Lafa Pratomo lebih sering hadir di balik karya musisi lain. Deretan lagu hit lahir dari tangan dingin seorang Lafa, menjadikan dia sebagai sebagai salah satu arsitek pop Indonesia paling diperhitungkan hari ini. Kini, setelah 12 tahun berkarya, Lafa untuk pertama kalinya menempatkan namanya di sampul sebuah proyek kolaboratif bertajuk ‘Garis Tegak:. Sebuah EP yang menjadi penanda perjalanan kreatifnya sekaligus refleksi atas kegelisahan hidup di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Diproduksi bersama KithLabo – mitra strategis dalam pengembangan artis bagi musisi independen urban di Indonesia, Garis Tegak sekaligus merayakan dua tonggak perjalanan: 12 tahun Lafa Pratomo berkarya sebagai produser dan 6 tahun KithLabo membangun ruang kolaborasi bagi musisi. Momentum tersebut diwujudkan melalui sebuah EP berisi enam lagu yang mempertemukan 12 musisi dalam enam pasang kolaborasi: Feby Putri & Matter Mos, Nadhif Basalamah & Hursa, Bilal Indrajaya & The Jansen, Ari Lesmana & White Chorus, Isyana Sarasvati & Jason Ranti, serta Hindia & Banda Neira. Seluruh proses kreatif dipimpin langsung oleh Lafa sebagai produser sekaligus kolaborator dalam penulisan setiap lagu. Perjalanan menuju perilisan EP akan dimulai melalui single pembuka “Seperti Angka 8”, kolaborasi Lafa Pratomo, Feby Putri, dan Matter Mos, yang akan dirilis di seluruh platform digital pada 4 Agustus 2026.
Bagi Lafa, Garis Tegak bukanlah album solo dalam pengertian konvensional. Proyek ini justru lahir dari keinginannya untuk merayakan perjalanan selama 12 tahun sebagai produser dengan mengajak musisi lain berjalan bersama. Alih-alih menempatkan para kolaborator sebagai penyanyi tamu, setiap lagu dibangun


Diproduksi Bersama KithLabo,
Menghadirkan 12 Musisi dalam 6 Kolaborasi(3) melalui proses workshop yang mempertemukan seluruh kreator dalam ruang yang setara, tanpa lagu jadi maupun konsep yang telah ditentukan sebelumnya. Seluruh proses workshop, penulisan, hingga rekaman dilakukan di Syaip Studio, studio yang didirikan Lafa Pratomo sebagai ruang kolaborasi sekaligus pusat aktivitas kreatifnya.
Semangat kolektif tersebut kemudian melahirkan judul ‘Garis Tegak:. Menurut Lafa, proyek ini berangkat dari kegelisahan yang sama-sama dirasakan banyak orang hari ini: bagaimana bertahan di tengah kehidupan yang terus berubah. Gagasan tersebut kemudian menjadi benang merah yang menghubungkan keenam lagu.
“Garis Tegak itu jadi lambang dari resiliensi. Gue melihat posisi gue, tim gue, dan teman-teman kolaborator ada di posisi yang sama. Mungkin kita kelas menengah yang sekarang hidupnya ya bertahan aja. Cara gue melawan adalah bagaimana gue bisa bertahan dan gimana teman-teman di sekitar gue juga bisa bertahan. Setiap lagu akhirnya menyampaikan resiliensi dari sudut pandang yang berbeda-beda,” kata Lafa.
Lafa juga menjelaskan bahwa pemilihan kolaborator yang ekspansif lintas generasi dan karakter musikal mencerminkan keterbukaannya terhadap berbagai kemungkinan kreatif.
“Ini jadi arsip dalam bentuk pengkaryaan yang ditulis bareng-bareng dengan teman-teman. Ada yang memang pernah kerja bareng sama gue, ada juga teman-teman yang belum pernah kerja, tapi sangat gue kagumi. Mereka bukan featuring artist. Kita berangkat dari rumah dengan perasaan yang sama. Kita nggak tahu mau bikin apa hari itu, lalu di penghujung hari jadilah sesuatu. DNA lagunya mengandung gue dan teman-teman ini juga,” lanjut Lafa.
Sebagai partner utama proyek, KithLabo memandang ‘Garis Tegak: sebagai perwujudan dari komitmennya menghadirkan ruang kolaborasi yang memberi kebebasan bagi musisi untuk mengeksplorasi ide dan identitas kreatif mereka.
“Bagi kami, ‘playground’ yang KithLabo hadirkan adalah sebuah ruang aman bagi para musisi untuk bisa bebas berekspresi dan bersuara setulus mungkin melalui karyanya. Di proyek EP Garis Tegak ini, keterlibatan kami adalah untuk memberdayakan, menghubungkan, dan mengangkat kolaborasi mereka secara holistik. Kami ingin memastikan karya ini terpromosikan dengan maksimal sehingga pesan dari ke-12 musisi ini benar-benar sampai dan beresonansi dengan pendengarnya,” ujar Ririe
Cholid, Head of Artist Services Believe Indonesia. Komitmen tersebut sejalan dengan visi Believe – global artist development company – yang menjadi perusahaan induk KithLabo dalam membangun ekosistem musik yang lebih terbuka bagi musisi.
“Lebih dari sekadar kolaborasi musik biasa, Garis Tegak adalah manifestasi nyata dari visi Believe untuk membangun ekosistem musik yang saling menghormati, adil, dan transparan. Believe melalui KithLabo mendobrak batasan label tradisional melalui layanan eksklusif yang membebaskan musisi ikonik dan talenta independen untuk sepenuhnya mengendalikan identitas kreatif mereka,” kata Dahlia Wijaya, Country Director Believe Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Makna resiliensi dalam Garis Tegak juga diterjemahkan secara personal oleh setiap kolaborator. Pada single pembuka “Seperti Angka 8”, misalnya, pengalaman bertahan hidup menjadi titik temu antara Feby Putri dan Matter Mos.
Bagi Feby Putri, penyanyi-penulis lagu yang menjadi salah satu kolaborator dalam single tersebut, kebertahanan berangkat dari pengalamannya merantau ke Jakarta. Jalan hidup yang semula terasa menjauh dari tujuan justru membawanya bertemu dengan pasangan hidup yang kini menjadi tempatnya bertumbuh bersama.
“Saat pertama kali merantau ke Jakarta, aku merasa berjalan sendirian menuju tujuan yang kupikir sudah jelas. Ternyata aku harus melewati banyak jalan lain dulu hanya untuk bertahan hidup. Di perjalanan itu aku bertemu seseorang yang kemudian menemaniku hingga akhirnya kami jatuh hati dan menikah. Bertahun-tahun bersama, rasanya kami sudah mengenal bagaimana kehidupan bisa sangat goyah. Tapi kami percaya semuanya akan baik-baik saja, selama kami tetap saling membersamai,” ujar Feby.
Sementara itu, Matter Mos, rapper dan penulis lagu yang juga terlibat dalam “Seperti Angka 8”, memaknai resiliensi sebagai kemampuan untuk tetap berpijak pada nilai dan orang-orang yang menjadi poros kehidupan.
“Resiliensi buat gue adalah posisi di mana kita berada. Kita memahami bahwa kita punya poros yang membuat kita terus berjuang. Di lagu ini, kami menerjemahkannya menjadi pemahaman bahwa sekarang pasangan kitalah yang menjadi akar yang membuat kita tetap bertahan. Resiliensi bisa hadir lewat komitmen,” tutur Matter Mos.
Selain melibatkan KithLabo sebagai partner utama, proyek Garis Tegak turut menggandeng Gema Semesta sebagai creative partner yang mengembangkan identitas visual proyek. Sementara itu, fotografer dan sutradara Yogi Koesoema dipercaya mengarahkan keseluruhan materi visual, mulai dari fotografi hingga video musik setiap single yang akan dirilis secara bertahap melalui kanal YouTube KithLabo, serta kanal para musisi yang terlibat. Video musik untuk single pembuka “Seperti Angka 8” dijadwalkan tayang di YouTube pada 11 Agustus 2026, sepekan setelah lagu tersebut dirilis di platform digital.
Tentang Lafa Pratomo,
Lahir di Bandung 26 Agustus 1988, Lafa Pratomo Setio Windarko, atau dikenal luas dengan nama Lafa Pratomo adalah seorang musisi, penulis lagu, dan produser yang memiliki versatilitas serta fleksibilitas tinggi. Ia membidani berbagai lagu dan album lintas dari artis-artis lintas genre seperti, Danilla, Polka Wars, The Panturas, Grrrl Gang, Mocca, Avhath, Sal Priadi, Nadin Amizah, Rony Parulian, Maudy Ayunda, Marion Jola, Bernadya, Idgitaf, hingga nama besar seperti Iwan Fals dan Dewi (Dee) Lestari. Pria pendiri rumah produksi musik ‘Syaip Studio’ yang berbasis di Jakarta ini tak hanya mencetak karya-karya dengan jumlah stream tinggi seperti lagu, ‘Tak Ada Ujungnya’ dari
Rony Parulian, atau ‘Rayuan Perempuan Gila’ dari Nadin Amizah. Lafa Pratomo juga membidani karya dengan kompleksitas dan warna yang tak biasa seperti ‘Ephemeral Passage’ (2024) album kolaborasi Avhath dan KUNTARI, atau The Panturas ‘Ombak Banyu Asmara’ (2021). Eksplorasi karya Lafa Pratomo akan terus berjalan seiring waktu dengan mengedepankan kerja kolaboratif artis-produser, pemberdayaan, serta proses kreatif yang berkelanjutan.
Berbasis di jantung kreatif Jakarta Selatan, Syaip Studio adalah sebuah studio kreatif dan ekosistem produksi musik yang berfokus pada pendekatan humanis serta berkelanjutan. Kami hadir bukan sekadar sebagai penyedia fasilitas teknis, melainkan sebagai ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan fleksibel untuk menerjemahkan estetika unik setiap musisi menjadi karya audio yang autentik. Rekam jejak kolaborasi kami lintas genre bersama nama-nama seperti Iwan Fals, Dewi Lestari, Raisa, Danilla, Bernadya, Nadin Amizah, Rony Parulian, hingga The Panturas dan Avhath, membuktikan komitmen kami dalam menggali ide terbaik Anda secara optimal hingga melahirkan karya yang membekas di hati pendengar.
Didirikan pada Juni 2020 di bawah naungan Believe—perusahaan artist development global—KithLabo hadir sebagai mitra strategis yang berdedikasi memajukan ekosistem musik independen Indonesia. Dikawal oleh tim ahli industri musik, KithLabo menerapkan pendekatan artist development modern yang memadukan kebebasan kreatif dengan strategi pemasaran yang holistik. Melalui integrasi promosi komprehensif—mulai dari optimasi streaming digital hingga kampanye berdampak luas—KithLabo memberdayakan musisi untuk membangun audiens dan resonansi secara organik. Kini, KithLabo mengukuhkan posisinya sebagai creative playgrounddan rumah bagi deretan musisi urban pop serta indie papan atas yang aktif membentuk lanskap musik modern Indonesia.
Believe
perusahaan artist development global memberdayakan musisi, penulis lagu, label rekaman, dan penerbitan independen lokal untuk mengembangkan bisnis dan pendengar di setiap tahap perjalanan karier mereka secara adil, transparan, dan profesional. Beroperasi di 50+ negara dengan 2.000+ karyawan, Believe menyediakan layanan lengkap rekaman, penerbitan, hingga distribusi. Kami memadukan pemahaman pasar lokal dengan teknologi global canggih untuk memaksimalkan royalti dan jangkauan sstreaming demi mendukung kemandirian kreatif paramusisi. Believe berbadan hukum perseroan terbatas(simplified joint-stock company) asal Prancis. Pelajarilebih lanjut di www.believe.com.
(SPR)

