South Jakarta – Penyanyi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok peraih GRAMMY® Awards, Laufey, merilis video klip untuk single terbarunya, “Lover Girl”. Lagu ini juga menjadi bagian dari album mendatangnya ‘A Matter of Time’ yang akan dirilis pada 22 Agustus mendatang via AWAL.
Setelah mendapatkan momentum viralnya secara global berkat tren menari yang menjalar di berbagai platform, video klip “Lover Girl” akhirnya resmi dirilis. Laufey sempat mengumumkan perilisan ini klip ini melalui halaman Instagram dan TikToknya kemarin, namun antusiasme para penggemar sudah terasa sejak cuplikan trailer dan halaman premiere-nya tayang di YouTube yang langsung dipenuhi komentar dan hitungan mundur dari penonton yang sudah tidak sabar.
Disutradarai oleh Junia Lin, saudari kembar Laufey sendiri, video klip ini mengambil latar di berbagai lokasi ikonik di Tokyo yang juga disebutkan dalam lirik lagunya. Di sepanjang klip, Laufey menari dan menyanyi mengikuti irama bossa nova dengan ekspresi pilu, menciptakan suasana penuh nostalgia yang diperkuat oleh busana vintage dan latar arsitektur bergaya retro.
Melalui “Lover Girl”, Laufey mengajak pendengarnya menyelami rasa sepi saat merindukan seseorang yang kita cintai. “Bagian tersulit dari mencintai seseorang adalah saat harus berjauhan dengannya. Lagu ini bercerita tentang itu,” ungkap Laufey.
Single ini menjadi rilisan ketiga dari album mendatangnya, setelah “Silver Lining” yang dirilis pada 3 April dan “Tough Luck” pada 15 Mei lalu.
Tentang Laufey
Laufey (dibaca lāy-vāy) adalah musisi, komposer, produser, dan multi-instrumentalis berdarah Islandia-Tiongkok yang berhasil memikat generasi baru lewat lagu-lagu penuh kepekaan tentang cinta dan pencarian jati diri, dengan sentuhan pop yang diperkaya unsur jazz dan musik klasik. Ia menjadi penghubung lintas generasi, menjembatani diskografi lama yang ia cintai dari Chet Baker hingga Carole King dan Ravel, kemudian ia menerjemahkannya dalam perspektif baru yang segar bagi pendengar muda yang kini telah terhubung begitu dalam dengan karyanya musiknya. Semua ini bukan kebetulan, melainkan tujuan yang sengaja Laufey tetapkan untuk dirinya sejak awal. Dari situlah lahir semesta penuh keajaiban yang dikenal sebagai “Laufey Land.”
Dibesarkan di Reykjavík dan Washington, D.C., Laufey mulai belajar piano dan cello sejak kecil, lalu melanjutkan pendidikannya di Berklee College of Music. Di sanalah ia menulis EP debutnya, ‘Typical of Me ‘(2021), dengan single “Street by Street” yang langsung menempati posisi No. 1 di radio nasional Islandia—pencapaian pertama dari sederet prestasi luar biasa yang menyusul. Kini, Laufey telah mencatat lebih dari 5 miliar streams secara global, mengumpulkan 25 juta pengikut di media sosial, memecahkan rekor sebagai debut album jazz terbesar dalam sejarah Spotify, dan menembus Billboard Top 20 lewat albumnya ‘Bewitched’.

Ia juga meraih berbagai sertifikasi Platinum, masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30, serta dinobatkan sebagai salah satu dari TIME’s Women of the Year 2025. Ia juga telah menjual habis tiket konser di berbagai panggung ikonik seperti Hollywood Bowl, Radio City Music Hall, dan Royal Albert Hall di London. Ia tampil bersama orkestra ternama seperti LA Philharmonic, National Symphony Orchestra, dan China Philharmonic Orchestra; berbagi panggung dengan musisi seperti Jon Batiste dan Raye, serta berkolaborasi lintas genre dengan nama-nama seperti Beabadoobee hingga Norah Jones.
Di awal tahun ini, Laufey juga meluncurkan The Laufey Foundation yang bertujuan mendukung musisi muda khususnya lewat orkestra pemuda agar mereka bisa mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Sebesar $1 dari setiap pembelian tiket tur ‘A Matter of Time’ yang terjual akan disumbangkan ke The Laufey Foundation.
Setelah sukses menggelar tur sold-out di berbagai negara Asia tahun lalu, termasuk Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, dan Taipei, Laufey terus memperkuat eksistensinya di kawasan ini sebagai fenomena global. Popularitasnya tercermin dari performa streaming yang impresif, dengan Filipina berada di posisi #2 dan Indonesia di posisi #3 dalam daftar negara dengan jumlah streaming tertinggi untuk Laufey secara global.
(SPR)
|
|

