South Jakarta – Kalau kamu merasa hidup makin berat tapi tetap harus terlihat “baik-baik saja”, mungkin kamu sedang ada di kelas yang paling tidak terlihat: kelas menengah. Lewat single barunya “Depresi Kelas Menengah”, Pugar Restu Julian (Uga) mengangkat satu realita yang jarang dibicarakan: orang-orang yang tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk aman.
Di lagu ini, Uga menyanyikan kegelisahan yang terasa sangat personal tapi juga sangat kolektif:
tidur tidak nyenyak, bangun tidak semangat, motivasi hilang, mimpi terasa jauh, dan satu teman yang selalu setia menemani: panic attack dan burnout.
Ini bukan lagu motivasi.
Ini bukan lagu self-healing.
Ini lagu curhat paling jujur dari kelas yang selalu diminta kuat.
Kelas menengah adalah kelas yang sering dianggap “aman”.
Padahal justru di sinilah banyak orang terjepit dari dua arah:
Harus tetap mendukung yang di atas
Harus tetap membantu yang di bawah
Tapi ketika mereka jatuh…
sering kali tidak ada yang menangkap.
Dengan sound yang raw dan lirik yang frontal, “Depresi Kelas Menengah” seperti menampar kenyataan yang sering kita pura-pura tidak lihat.
Karena kadang masalah terbesar bukan kemiskinan.
Tapi perasaan sendirian di tengah semuanya.
Dan pertanyaan yang terus muncul:
Di mana motivasi ketika kubutuhkan?
Di mana rasa percaya diri yang menghilang?
Di mana angan-angan yang tak pernah jadi nyata?
Di mana cita-cita yang tak pernah tercipta?
Kalau kamu pernah merasa seperti itu,
mungkin lagu ini bukan sekadar lagu.
Mungkin ini laporan kondisi mental satu generasi.
Karena ternyata…
yang paling sering depresi bukan yang paling miskin.
Tapi yang paling sering disuruh kuat.

“Depresi Kelas Menengah”
Music, lyrics, vocals, backing vocals, electric guitar, acoustic guitar, bass, drums, piano, mixing, mastering, produced by Pugar Restu Julian
Artwork by Unggul Kardjono
“Depresi Kelas Menengah” sudah bisa didengarkan di Digital Streaming Platform mulai 3 April 2026.
(SPR)

