South Jakarta – Band rock Queens of the Stone Age mengungkap realisasi sinematik dari sebuah mimpi melalui penayangan perdana Alive in the Catacombs pada 5 Juni, sebuah dokumentasi audiovisual dari pertunjukan band yang telah lama menjadi rumor, di lorong-lorong Katakombe Paris yang terkenal.
Difilmkan dan direkam pada Juli 2024, Queens of the Stone Age: Alive in the Catacombs menangkap QOTSA dengan cara yang belum pernah terlihat atau terdengar sebelumnya.
Pengalaman satu kali seumur hidup yang benar-benar unik ini menampilkan daftar lagu yang dipilih dengan cermat dari seluruh katalog QOTSA, setiap lagu dipilih dan diaransemen ulang secara epik khusus untuk suasana Katakombe. Hasilnya adalah perwujudan QOTSA yang belum pernah terjadi sebelumnya — sangat intim namun dikelilingi oleh jutaan sisa jasad manusia.
“Penonton terbesar yang pernah kami mainkan,” kata Joshua Homme.
Katakombe Paris adalah ossuarium yang membentang sepanjang 320 km (200 mil) di bawah permukaan kota Paris. Dengan fondasi jutaan tubuh yang dikuburkan sejak abad ke-18, sisa-sisa tulang masih tampak jelas, dengan banyak dinding yang dibangun dari tengkorak dan tulangbelulang. Homme telah memimpikan pertunjukan QOTSA di Katakombe sejak kunjungan pertamanya hampir 20 tahun lalu. Namun, kota Paris belum pernah memberikan izin kepada seniman mana pun untuk tampil di dalam terowongan suci itu. QOTSA, sebagai warga yang taat hukum, menunggu hingga visi mereka mendapatkan izin resmi.
Film ini juga ditayangkan di bioskop di berbagai negara untuk one day screening, termasuk Indonesia. Untuk Indonesia, pemutaran Queens of the Stone Age: Alive in the Catacombs digelar
pada Kamis 5 Juni 2025 di CGV Grand Indonesia. Penonton yang hadir bisa menikmati film beserta behind the scene, merchandise poster dan lobby cards Alive in The Catatombs, serta kesempatan mendapat merchandise spesial dalam kuis yang diadakan setelah pemutaran.

Hélène Furminieux (Les Catacombes de Paris) mengatakan: “Katakombe Paris adalah lahan subur bagi imajinasi. Penting bagi kami agar para seniman menangkap semangat tempat ini dan memberikan interpretasi yang peka. Menyelam ke bawah tanah dan menghadapi refleksi tentang kematian bisa menjadi pengalaman yang sangat intens.
Josh sepertinya benar-benar merasakan dalam tubuh dan jiwanya potensi penuh dari tempat ini.
Rekaman-rekamannya selaras dengan sempurna bersama misteri, sejarah, dan introspeksi tertentu — yang terasa dalam penggunaan keheningan yang halus di dalam Katakombe.”
Setiap keputusan estetis, pilihan lagu, susunan instrumen… semuanya direncanakan dan dimainkan dengan penuh penghormatan terhadap Katakombe — dari akustik dan suara ambient— tetesan air, gema, dan resonansi alami — hingga pencahayaan atmosferik yang gelap untuk memperkuat musiknya. Jauh dari ruang kedap suara studio atau kenyamanan monitor panggung, Alive in the Catacombs menampilkan band yang tidak hanya menghadapi tantangan ini, tetapi juga menerimanya sepenuh hati.
Homme mengenang, “Kami tampil se-minimal mungkin karena tempat itu sendiri juga sangat minimal, yang membuat musiknya juga jadi minimal, yang membuat liriknya pun ikut minimal… Akan sangat konyol jika mencoba nge-rock di sana. Semua keputusan dibuat oleh tempat itu. Tempat itu yang mengatur segalanya. Kamu hanya bisa menuruti perintah saat berada di sana.”
Hasilnya adalah QOTSA yang direduksi hingga bentuk paling esensial — Homme, Troy Van
Leeuwen, Michael Shuman, Dean Fertita dan Jon Theodore dilengkapi dengan trio pemain gesek,
serta menggunakan rantai dan sumpit sebagai instrumen perkusi darurat. Alive in the Catacombs adalah QOTSA dalam wujud paling murni karena kebutuhan (tak bisa disebut “unplugged” jika tidak ada colokan listrik), sampai-sampai mereka menyambungkan aki mobil untuk menyalakan piano elektrik. Dan semua ini direkam tanpa filter — setiap lagu direkam secara langsung dalam satu kali pengambilan tanpa overdub atau suntingan.
Kata-kata tak bisa menggambarkan keagungan Queens of the Stone Age: Alive in the Catacombs.
Keseimbangan antara subtilitas dan kemegahannya harus dialami langsung agar bisa diapresiasi.
Keindahannya terletak dalam perjuangan (baik internal maupun eksternal). Inilah Joshua Homme dalam kondisi paling rentan secara fisik, namun akhirnya paling berjaya. Queens of the Stone Age: Alive in the Catacombs diproduksi oleh La Blogothèque dan disutradarai oleh Thomas Rames, serta dirilis oleh Queens of the Stone Age dan Matador Records.
Film ini akan tersedia untuk disewa atau dibeli melalui qotsa.com. Penggemar yang membeli Alive in the Catacombs sebelum 7 Juni akan mendapatkan akses eksklusif ke cuplikan di balik layar, selain akses streaming dan unduhan penuh. Versi audio saja akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang.
(SPR)

