March 15, 2026
Image default
Event & CommunityMusicology

Hari Musik Nasional, Citra Svara Indonesia Gelar Diskusi ‘Beda Masa Satu Rasa’

South Jakarta –  Dalam rangka menyambut Hari Musik Nasional, Komunitas musik Citra Svara Indonesia menyelenggarakan forum diskusi yang menghadirkan pelaku-pelaku industri musik untuk membahas tantangan, peluang, serta strategi dalam memperkuat ekosistem musik Indonesia agar lebih berdaulat dan siap bersaing di kancah internasional.

Forum diskusi yang bertajuk ‘Beda Masa Satu Rasa’ tersebut berlangsung pada 5 Maret 2026 dengan mengambil tempat di CC Cafe at Nancy Place, Jakarta Selatan. Acara yang dipandu oleh Lodewiyk Ticoalu tersebut menghadirkan pembicara Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha,  Harry ‘Koko’ Santoso, Connie Constantia, Tony TSA, Oleg Sanchabachtiar, Gideon Momongan, Firdaus Fadlil, Jimmy Turangan, Liza Maria dan Erby Dwitoro. Hadir juga pada kesempatan tersebut Addie MS dan juga Danny Pete.

Dalam sambutannya, Wamenbud Giring Ganesha mengungkapkan, “Saya besar di industri musik ketika jamannya semua diatur satu media besar bernama MTV. Peran media sangat penting dalam membangun, mengembangkan dan mempopulerkan musik-musik. Setiap harinya saya semakin yakin betapa luar biasanya musik Indonesia sampai ke titik ini. Di zaman sekarang justru musik berbahasa daerah memiliki peminat yang luar biasa. Akhirnya setiap musisi-musisi daerah mempunyai kesempatan untuk mempopulerkan, karya mereka secara langsung.”

 

Foto bersama ( foto : QB )

 

Forum diskusi 'Beda Masa Satu Rasa' ( foto : QB )
Forum diskusi ‘Beda Masa Satu Rasa’ ( foto : QB )

 

Sesi tanya jawab ( foto : QB )

 

Sementara Harry ‘Koko’ Santoso menyoroti minimnya tempat untuk menyelenggarakan pertunjukan musik di tanah air, “Dari 38 provinsi yang ada dan 500 kabupaten kota, itu 100 persen punya stadion dan gelanggang olahraga. Tapi peruntukannya hanya untuk olahraga. Kita sampaikan kepada Mas Wamen dari 100 persen agar bisa 20 persen untuk musik. Harapannya dari Sabang sampai Merauke agar peruntukannya bisa untuk musik.”

Harry ‘Koko’ juga menyinggung tentang keberpihakan BUMN yang lebih mendukung pertunjukan musik luar, “Perusahaan besar di negeri kita, sekarang mereka sangat mendukung musik asing. Kita tidak anti. Apakah mungkin ke depan, bagaimana belanja iklan yang besar itu menjadi bagian dari kemajuan musik Indonesia.’

Hal lain yang menjadi perhatian Harry ‘Koko’ Santoso adalah banjirnya musisi luar tanah air yang meramaikan blantika musik Indonesia, “Dari data impresariat, lebih dari 20 ribu musisi hadir di sini dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Tidak hanya bernyanyi tapi juga menjadi bagian dari promosi negaranya bahkan produk dalam negeri jadi bagian. Itu tidak salah tapi harusnya bisa dimanfaatkan untuk semua. Bagiamana musisi kita bisa juga untuk hadir di negara mereka. Kami Citra Svara Indonesia ingin menyampaikan, kedaulatan budaya musik asing, betul-betul sudah mengganggu kedaulatan ekonomi kita.”

Sebagai catatan, Cita Svara Indonesia, yang di dalamnya terdiri dari pelaku musik Indonesia dan  berada dalam lingkaran ekosistem musik Indonesia dan telah aktif berkecimpung di dunia musik Indonesia sejak 1980 – 1990-an. Citra Svara Indonesia bersepakat menyatukan diri, berkumpul, menyelaraskan visi dan misi dan menyatukan enerji. Cita Svara Indonesia berdiri dengan tujuan utama, menjadi elemen sinergi yang siap mendukung sepenuhnya dan ikut menggali potensi musik Indonesia menjadi industri serta turut mendorong kolaborasi yang sehat antara para musisi se-Indonesia.

 

 

 

 

 

Related posts

Fans K-pop Indonesia dan Global Usulkan Pembentukan Dewan ‘Konser Rendah Karbon’ Kepada Majelis Nasional Korea Selatan

Qenny Alyano

Solo City Jazz 2025 Sukses Digelar, Hadirkan Sandhy Sondoro Sampai ERK

Qenny Alyano

Bombay Bicycle Club Rilis Album Baru Umumkan Tur Asia Tenggara 2024 Termasuk Joyland Festival

AQK

Leave a Comment