South Jakarta – Setelah merilis ‘”Aquarius” dan mini album ‘Reminisce 189’ di tahun 2023, Santamonica kembali dengan single terbaru berjudul “SIN”, sebuah karya yang mengangkat kemarahan dan kegelisahan perempuan karena dianggap sebagai penyebab dosa, warisan dari sistem yang patriarkal.
Ditulis oleh Sistine (Anindita Saryuf) dan diproduseri bersama Joseph Saryuf, “SIN” merupakan karya mandiri yang juga akan menjadi bagian dari album penuh Santamonica berikutnya, ‘Wunderkammer’ kelanjutan dari album debut mereka, ‘Curiouser and Curiouser’.
Lagu ini pertama kali ditulis pada tahun 2008, saat Sistine sedang bergulat dengan pertanyaan tentang ketidakadilan yang kerap dibebankan kepada perempuan. “Lagu ini berangkat dari pemikiran tentang bagaimana perempuan sering dilihat sebagai sumber dosa,” jelasnya. “Sejak kisah Adam dan Hawa, narasi itu terus diwariskan.”
Dengan nuansa musik yang gelap dan atmosferik, lirik SIN terasa seperti fragmen yang puitis namun tidak menggurui, menyampaikan keresahan tanpa perlu berteriak.
Ini bukan lagu tentang penebusan, tapi tentang kesadaran, tentang bagaimana perempuan menghadapi sistem yang menghakimi sejak lama. Tak ada teriakan, hanya suara yang tetap bersenandung tenang di tengah dunia yang perlahan runtuh.

Menariknya, lirik “SIN” yang ditulis pada tahun 2008 justru terasa nyaris profetik. Sistine menjelaskan: “Bertahun-tahun setelah lagu ini ditulis, saya menonton adegan Daenerys membakar kota dalam Game of Thrones. Meski konteksnya berbeda, ada sesuatu yang menggetarkan. Kemarahan yang terpendam, rasa diremehkan, lalu tiba-tiba dianggap sebagai ancaman—semua itu mencerminkan emosi yang saya tulis di lagu ini. Tentang titik balik seorang perempuan yang selama ini disuruh diam, memikul beban yang bukan miliknya, lalu akhirnya memilih untuk tidak lagi patuh.”
Visual untuk “SIN” juga menyimpan cerita. Foto yang menjadi sampul digital lagu ini dibuat pada 2015, saat Santamonica sedang vakum. Saat itu, Sistine berkolaborasi dengan fotografer Ifan Hartanto dan label Tangan dalam proyek koleksi perdana mereka, yang melibatkan sejumlah stylist dan fotografer untuk menerjemahkan karya mode ke dalam foto. Konsep foto ini terinspirasi dari lagu SIN, meskipun saat itu Sistine tidak menyangka lagu ini akan pernah dirilis.
Dalam foto tersebut, tampak seorang perempuan di ruang jagal dengan apel di mulutnya, simbol dari narasi tentang dosa dan perempuan. Lokasinya menggambarkan bagaimana tubuh perempuan sering dipandang sebagai objek atau komoditas. Kini, setelah bertahun-tahun, lagu dan gambar tersebut dipertemukan kembali dalam konteks yang lebih utuh.
Untuk memperkuat penyampaian tema dari lagu ini, Santamonica menyajikannya dalam sebuah musik video yang sederhana namun sarat makna. Berdiri di dalam sebuah kotak kaca seolah-olah sebuah diorama, Sistine dan Joseph memainkan vintage synthesizer di bawah warna-warni cahaya artifisial dan sorotan proyektor. Proyeksi di sekeliling mereka membentuk narasi tentang mitologi, feminitas, dan perlawanan yang terpendam — seperti sebuah ritual yang terkunci dalam waktu.
Dalam video ini, Sistine dan Joseph mengenakan busana couture dari koleksi Harry Halim, perhiasan Mahija rancangan Galuh Anindita, serta perhiasan wajah oleh desainer kawakan Rinaldy Yunardi, yang memperkuat kompleksitas narasi SIN melalui ekspresi mode.
Sebagai bagian dari rangkaian menuju album Wunderkammer, “SIN” menjadi gambaran awal arah musikal Santamonica yang tetap konsisten: atmosferik, sinematik, dan jujur secara emosional.
(SPR)

