South Jakarta – Shadowbourne diisi oleh Pasha Chrisye (anak bungsu dari Almarhum Chrisye) sebagai vokalis dan penulis lagu, Reiner Ramanda sebagai gitaris yang juga menahkodai keys & synth pada band rock Stereowall dan Axel Andaviar sebagai penggebuk drum berkarakter (yang juga putra dari Ovy /rif). Telah merilis EP debutnya berjudul PALINGENESIS, dan melahirkan 4 buah trak diantaranya: Perjuangan, Bayanganmu, Dark Night of The Soul dan Deru Belenggu.
Shadowbourne menancapkan lagi titik perjuangannya lewat video musik Deru Belenggu, dan menjadi single kedua yang di pilih setelah sebelumnya merilis single Perjuangan. Deru Belenggu adalah satu dari dua lagu yang lahir dari satu kisah dan satu perasaan yang sama tentang cinta yang tulus, namun tak bisa dimiliki. Ini adalah cerita tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi harus berpisah karena keadaan tidak pernah memberi mereka ruang untuk tetap bersama. Cinta yang datang di waktu yang salah, sekuat apa pun, tak selalu bisa diperjuangkan.
Deru Belenggu menjadi luapan emosi dari jiwa yang terperangkap di tengah badai rasa berusaha membebaskan diri dari kenangan yang terus menderu dan cinta yang perlahan berubah menjadi belenggu. Satu luka. satu emosi, satu perjalanan dan satu cinta yang meski telah hilang, tak pernah benar-benar pergi.
Deru Belenggu menjadi trek penutup dari EP Palingenesis, sekaligus representasi paling gelap namun paling jujur dari fase pertarungan batin sang narator. Lagu ini menggambarkan momen ketika seseorang berdiri di titik terdalam keputusasaan terjebak dalam badai emosi, bayangan masa lalu, dan belenggu yang tak terlihat namun terasa menghancurkan.

Dengan nuansa atmospheric metal yang berat namun melodius, “Deru Belenggu” memadukan gitar yang agresif, ritme yang tercekik namun propulsif, serta vokal yang beralih dari lirih penuh luka ke ledakan kemarahan katarsis. Shadowbourne membangun lanskap suara yang mencerminkan pergulatan jiwa: rasa bersalah, kehilangan kontrol, dan pencarian celah untuk kembali bernapas.
Secara naratif, lagu ini menjadi titik balik menuju kebangkitan. Di tengah kekacauan, ada secercah kesadaran bahwa untuk merdeka dari belenggu diri, seseorang harus menghadapi sisi tergelapnya sendiri. “Deru Belenggu” bukan sekadar ledakan emosi ia adalah pemurnian, momen ketika luka berubah menjadi kekuatan.
(SPR)

