April 15, 2026
Image default
Hot ReleasesWhat's New

Snail Mail Umumkan Album ‘Ricochet’, Lepas MV “Dead End”

South Jakarta – Snail Mail,  proyek musik dari Lindsey Jordan, mengumumkan album ketiganya yang sangat dinantikan, ‘Ricochet’, yang akan dirilis pada 27 Maret oleh Matador Records. Album pertamanya dalam lima tahun ini menandai kembalinya Jordan dengan kejernihan dan kendali baru, menegaskan posisinya sebagai penulis lagu generasi baru dengan sudut pandang yang semakin tajam. Jika karya awalnya banyak bercerita tentang gejolak emosional cinta muda, Ricochet justru mengeksplorasi hal yang lebih dalam: waktu, kematian, dan ketakutan sunyi melihat hal-hal yang kita cintai perlahan memudar. Kesebelas lagunya penuh dengan renungan, kecemasan, serta penerimaan—pengakuan bahwa dunia akan terus berputar, apa pun yang terjadi dalam orbit kecil kehidupan kita.

Bersamaan dengan pengumuman ini, Jordan merilis single pertama dari album tersebut, “Dead End,” sebuah lagu yang meratapi kesederhanaan masa remaja di pinggiran kota—berhenti di ujung cul-de-sac dan merokok bersama teman-teman. Secara musikal, lagu ini memadukan tekstur grunge-gaze yang tebal dengan riff gitar utama yang tajam dan hook manis, membangun ketegangan hingga meledak dalam bagian singalong “nah-nah-nah” yang penuh energi. Tentang video musik yang ia sutradarai bersama Elsie Richter, Jordan mengatakan, “Kami syuting video ‘Dead End’ di berbagai lokasi acak di pedesaan North Carolina antara pukul 5 sore hingga 4 pagi pada salah satu malam paling dingin dalam hidupku. Kami berusaha agar kembang apinya tidak mencolok, tapi ada seseorang yang akhirnya memanggil polisi.”

Snail Mail juga mengumumkan tur besar Amerika Utara musim semi ini, dimulai pada 10 April di Milwaukee dan berlangsung hingga awal Mei. Tur ini akan menjadi rangkaian pertunjukan Amerika Utara pertama Jordan dan bandnya dalam rangka promosi Ricochet. Mereka juga akan tampil di Brooklyn Paramount (15 April) dan The Wiltern di Los Angeles (1 Mei). Tiket mulai dijual pada Jumat, 23 Januari pukul 10 pagi waktu setempat — daftar tanggal lengkap tersedia di bawah.

Ditulis selama periode perubahan pribadi yang intens, termasuk kepindahan dari New York ke North Carolina, Ricochet memperlihatkan Jordan bergulat dengan pertanyaan yang dulu ia hindari—tentang kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Album ini memadukan lirik tajamnya dengan melodi yang semakin luas, aransemen string yang megah, dan tekstur hipnotis, menghadirkan evolusi alami dari permainan gitar di Lush dan luapan emosi mentah di Valentine. Secara sonik, Ricochet menyalurkan sisi bercahaya dari rock alternatif ’90-an—mengingatkan pada Smashing Pumpkins saat paling cerah, Radiohead era Britpop, serta kabut shoegaze ala Catherine Wheel dan Ivy—semua diolah melalui suara khas Jordan yang unik.

Setelah menjalani operasi polip pita suara dan terapi wicara intensif menjelang tur Valentine pada 2021, Jordan tampil di Ricochet sebagai vokalis yang lebih percaya diri dan terkendali—ironi manis bagi album yang membahas ketidakpastian. Ia merekam album ini bersama produser sekaligus bassist Aron Kobayashi Ritch (Momma) di Fidelitorium Recordings, North Carolina, serta Nightfly dan Studio G di Brooklyn. Proses rekaman, kata Jordan, terasa “menyegarkan, penuh kepercayaan, dan nyaman,” memungkinkannya menyelami lagu-lagu tanpa kompromi.

Album ini juga menandai perubahan dalam proses kreatif Jordan. “Biasanya aku tidak seperti ini, tapi kali ini aku menulis semua instrumen dan melodi vokal di piano atau gitar, lalu mengisi semua lirik sekaligus selama setahun,” jelasnya. Pendekatan ini memberinya waktu untuk merangkai melodi luas yang menjadi karakter utama Ricochet.

Dunia lirik album ini terinspirasi oleh karya-karya yang membahas eksistensi. Film Synecdoche, New York karya Charlie Kaufman menjadi pengaruh besar, sementara lagu seperti “Nowhere” mengambil inspirasi dari puisi Laura Gilpin, “The Two-Headed Calf.” Pada lagu “My Maker,” Jordan membayangkan dirinya terlalu lama singgah di bar bandara surgawi, memohon, “Oh, bouncer in the sky / Let me in, I’m scared to die.” Di bagian lain, Ricochet berkabung atas persahabatan yang memudar, kesederhanaan yang hilang, serta rasa sakit akibat jarak emosional—sebuah album tentang kecemasan bukan karena hal buruk, tapi karena betapa cepatnya hal-hal baik berlalu.

Artwork album ini mencerminkan temanya. Ricochet menjadi rilis Snail Mail pertama yang tidak menampilkan wajah Jordan; sebagai gantinya, sebuah rumah keong spiral mengambang di hamparan biru kusam—simbol keruntuhan ke dalam diri dan keluasan yang tak berujung—dorongan tarik-ulur antara pertumbuhan, jarak, dan perspektif.

(SPR)

Related posts

Becky and the Birds Rilis Single dan MV Baru ‘When She Holds Me’

AQK

Marshanda Nyanyikan Soundtrack Film ‘La Tahzan : Cinta, Dosa, Luka’ Berjudul “Segalanya”

AQK

SXSW Taiwan Beats Showcase 2026 Sukses Digelar di Austin

Qenny Alyano

Leave a Comment