South Jakarta – Setelah melepas sederet single (‘Jari Kasar’, ‘Di Pinggir Marjin’, ‘Langit Biru’ & ‘Ke Timur’) sejak September 2025 lalu, The Brandals akhirnya akan merilis album baru ke-6 bertitel ‘Oposisi’, diluncurkan 30 September 2026.
Sebelumnya, telah dirilis juga dari album single ‘1948’ di15 September. Lagu yang bertemakan tentang peristiwa Nakba (malapetaka atau bencana dalam bahasa Arab), dimana 750,000 rakyat Palestina terusir dari tanah mereka sendiri karena dirampas secara paksa oleh Zionist Israel. Penjajahan serta ekspansi pencurian lahan oleh Israel terus berlanjut sampai sekarang. Sudah memakan jutaan korban jiwa, yang intensitas kebrutalan-nya meningkat tajam sejak 7 Oktober 2023. ‘1948’ menyoroti fenomena tragedi ini, tapi juga menyulutkan api semangat pembebasan Palestina sampai merdeka. Karena faktanya, membebaskan Palestina berarti juga membebaskan Indonesia (bahkan dunia) dari cengkraman Zionist Israel.
Lagu yang dieksekusi dengan aransemen Post Punk ini masih hasil kolaborasi dengan duo produser Jonathan Mono & Jonathan Pardede. Tandem ini juga yang membidani lahirnya 10 lagu karya terbaru The Brandals di album, dikerjakan sejak September 2024. Secara musikal, ‘Oposisi’ kembali menunjukkan modus operandi The Brandals yang selalu bergerak mencari ruang dan warna baru. Selalu mengambil resiko berkeksperimen dan berekspansi. Mencari rute yang jarang dilalui band/musisi lain. Tapi tetap menjaga DNA nya sebagai unit band Rock paling berbahaya di (01 / 04) lansekap musik independen lokal.

Pertemuan dengan Jonathan Mono & Jonathan Pardede juga memberi sentuhan berbeda ke
aransemen lagu. Keduanya mempunyai reputasi sebagai produser musik berhaluan elektronik
sehingga membawa banyak palet baru ke dalam musik The Brandals. Proses rekaman berjalan
sangat produktif, dimana dinamika hubungan band dan produser tarik ulur saling menantang
untuk membuat terobosan-terobosan yang belum pernah dilakukan. Sehingga banyak repertoire
lagu melawan ekspektasi publik dan pendengar tentang bagaimana seharusnya The Brandals
terdengar.
Titik referensi banyak mencuri pengaruh dari musik dan band/musisi dekade 80-90an dimana
Rock, Hip-Hop dan Elektronik mulai saling penetrasi dan bermutasi. Band/musisi seperti Chic & Nile Rogers, INXS, Tears for Fears, Suicide, Blondie, The Clash, Bauhaus, Eric B & Rakeem, De La Soul, Paul Weller, The Style Council, The Stone Roses dan Happy Mondays diantaranya jadi acuan dalam proses rekaman.
Setelah ditinggal gitaris Tony Dwi Setiaji (awal 2021) dan drummer Firman Zaenudin (pertengahan 2023), formasi The Brandals kembali menjadi kuartet ditengah rekaman dengan kehadiran drummer muda Ghani Noorputrawan yang bergabung di awal tahun 2025. Gebukan solidnya menginjeksi rejuvenasi tenaga baru di album. (02 / 04)
Secara tematik, ‘Oposisi’ sengaja dipilih sebagai judul dengan pesan gamblang dan jelas tentang
keberpihakan juga keteguhan dimana The Brandals berpijak, ditengah ricuhnya kondisi sosial politik sejak dipimpin rezim Prabowo – Gibran. Tidak ada komponen oposan dalam struktur pemerintahan yang mewakili rakyat. Maka kehadiran ‘Oposisi’ diharapkan bisa menjadi corong perwakilan suara mayoritas warga sipil yang ingin menyampaikan protes atas kebijakan dan manuver negara yang banyak merugikan. Terutama buat kelas pekerja dimana personil The Brandals jelas berada dibawah demografinya.
Pesan-pesan tersebut terdengar di lagu seperti ‘Di Pinggir Marjin’ sebagai lagu balada pekerja
urban dan ‘Jari Kasar’, yang berkolaborasi dengan duo Punk Elektro dari Purbalingga, Sukatani. Atau bisa diteliti rentetan rap lirik Eka Annash di lagu ‘Ke Timur’ yang merangkum porak
poranda-nya kondisi dalam negeri dalam tulisan rima berdarah dingin. ‘Langit Biru’ juga bernarasi secara reflektif tentang kehancuran alam.

Selain itu juga menyisakan momen introspektif di track ‘Midnight, Dharmawangsa Parking Lot’.
Tapi payung besar tematik album ini adalah sepak terjang personil sebagai kepala keluarga kelas pekerja yang berjuang dan melawan dari jepitan tuntutan hidup, juga kerasnya kota urban.
‘Oposisi’ semakin mengkukuhkan posisi The Brandals sebagai band Rock independen garda
depan yang masih patut diperhitungkan walau sudah berjalan selama 25 tahun.
Sekaligus meneguhkan konsistensi posisinya sebagai band pembawa pesan sosial dan politik
dari awal berdiri sejak 2001. Walaupun sudah berumur, tapi jati diri, mentalitas dan identitas-nya sebagai berandalan akan selalu dijaga integritasnya. Berawal sebagai band urakan pemberontak lalu progres bermutasi menjadi warga sipil oposisi rezim yang dewasa, berani dan tajam.
Terwakili dan terangkum dalam 10 karya terbaru mereka di album.
(SPR)

