South Jakarta – Setelah tujuh tahun menahan diri dari peredaran karya baru, Lea Simanjuntak kembali. Salah satu diva vokal terbaik yang dimiliki Indonesia ini merilis single terbarunya, “Ruang di Hatimu”, sebuah karya yang lahir dari pengalaman paling personal sang penyanyi — dan menjadi rilisan pertamanya sejak 2019.
Bagi Lea, jeda panjang itu bukan kekosongan, melainkan ruang untuk mengendapkan pengalaman. “Ruang di Hatimu” hadir bukan sebagai upaya kembali ke panggung, tetapi sebagai pernyataan yang matang tentang kehadiran, harapan, dan arti diberi tempat di hati seseorang
.Lagu ini berangkat dari sebuah titik balik dalam hidup Lea — momen ketika kelelahan bertemu dengan kehadiran yang tak terduga.
“Di saat hidup saya sedang lelah dan kehilangan arah, tiba-tiba hadir seseorang. Kehadirannya membawa perubahan, dan mendatangkan harapan. Sejak itu saya ingin memberi lebih — perhatian yang khusus, momen, cerita yang lebih dalam bersamanya — meski saya tidak tahu berapa lama kesempatan itu diberikan. Yang terpenting, saya ingin menjadi ruang di hatinya.”
unfkap Lea Simanjuntak
Perasaan itu diterjemahkan ke dalam warna adult pop-jazz: hangat, dewasa, dan lapang, ruang yang cukup bagi karakter vokal sopran Lea untuk bercerita tanpa perlu meninggikan suara.
Dalam penggarapan single ini, Lea dipertemukan kembali dengan rekan lamanya sesama musisi, Nur Satriatama (@satriatama.nur), yang dipercaya duduk sebagai produser sekaligus penulis lagu. Sentuhan produksinya membentuk aransemen yang presisi namun tetap bernapas — sesuai ekspektasi keduanya sejak awal.
Seluruh proses rekaman dilakukan secara live, dengan seluruh musisi bermain dalam satu ruang dan satu waktu. Pendekatan ini dipilih secara sadar: menjaga interaksi, dinamika, dan ketidaksempurnaan manusiawi yang justru menjadi kekuatan sebuah lagu tentang kehadiran.

Video musik “Ruang di Hatimu” diproduseri oleh Riverbrick Studios (@riverbrickstudios), rumah produksi dengan rekam jejak lebih dari 1.000 karya audio dan visual, di bawah arahan sutradara Alain Goenawan (@alain_goenawan), Galih Pratama (@calengklik), dan Nur Satriatama (@satriatama.nur). Produksinya menggabungkan dua pendekatan: pengambilan gambar langsung di studio bersama Lea Simanjuntak dan para pemain, lalu dunia visual di sekelilingnya dibangun melalui proses asset 3D & generatif berbasis AI yang dikerjakan sendiri oleh tim.
Salah satu kejutan dalam video ini adalah kehadiran empat personel Agak Laen — Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga — yang tampil memainkan terompet, trombon, flugelhorn, dan tuba. Mereka masuk sebagai formasi brass yang, seperti selebihnya dari video ini, direkam langsung di studio. Pendekatan visualnya tetap mengikuti napas lagunya: intim, tenang, dan menahan diri.
Tentang Lea Simanjuntak
Lea Simanjuntak adalah penyanyi Indonesia yang dikenal lewat karakter vokalnya yang kuat, musikalitas yang matang, serta kemampuannya bergerak dengan luwes di berbagai genre dan panggung. Berbekal fondasi vokal klasik yang kuat, Lea membangun perjalanan bermusik yang melintasi pop, jazz, R&B, musik rohani, hingga musikal—menjadikannya seorang performer dengan pendekatan yang khas: teknis tanpa kehilangan rasa, elegan namun tetap personal.
Musik telah menjadi bagian dari hidup Lea sejak kecil. Ia mulai bernyanyi solo bersama paduan suara gereja pada usia lima tahun dan mempelajari piano setahun kemudian. Fondasi musikal tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang sebagai penyanyi, performer, dan vocal coach, dengan satu benang merah yang terus ia pegang: suara bukan sekadar tentang kemampuan bernyanyi, tetapi tentang bagaimana sebuah lagu disampaikan dan dipercaya.
Karier profesional Lea dimulai pada tahun 1996, melalui sejumlah program televisi seperti Horas Indosiar. Sebelum dikenal sebagai penyanyi solo, ia lebih dahulu membangun jam terbang sebagai penyanyi latar, antara lain untuk Bragi, lalu Chrisye dan Erwin Gutawa—pengalaman yang turut membentuk musikalitas dan kedisiplinannya sebagai performer.
Album perdananya, Bangun, dirilis pada 2004 dan melahirkan single “Jangan Katakan Cinta” ciptaan Lea sendiri. Sejak itu, Lea telah merilis tujuh album dan sejumlah single, dengan perjalanan panggung yang membawanya tampil di lebih dari 18 negara serta berkolaborasi dengan berbagai musisi nasional dan internasional.
Salah satu tonggak penting dalam kariernya terjadi di Java Jazz Festival 2016, ketika Lea berduet dengan komposer dan produser legendaris David Foster. Lea tampil bersama Foster selama dua malam berturut-turut, membawakan “The Power of Love”, “I Have Nothing”, dan “I Will Always Love You”.
Kolaborasi tersebut berlanjut ke Eropa. Pada 6 September 2016, Lea kembali sepanggung dengan Foster di Warsaw, Poland, dalam sebuah konser yg digagas oleh Duta Besar RI untuk Polandia pada saat itu, Peter F. Gontha, yang diselenggarakan di ballroom Hilton Hotel, Warsaw.
Panggung kenegaraan juga telah menjadi bagian dari perjalanan karier Lea selama lebih dari satu dekade. Sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia telah beberapa kali dipercaya tampil di Istana dalam berbagai kesempatan kenegaraan. Di era pemerintahan Presiden Jokowi bahkan Lea tidak hanya diminta bernyanyi di istana saja, melainkan selalu menjadi satu rangkaian dengan kehadiran beliau melalui penampilan Lea pada acara pertemuan para kepala negara G20 di ballroom hotel Mulia. Lea juga menjadi penyanyi pembuka pada ASIAN games 2018 di GBK. Pada Pada 17 Agustus 2026, Lea kembali tampil di halaman Istana Merdeka dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, membawakan “Negeriku” karya Chrisye. Pilihan lagu tersebut memiliki makna tersendiri: lebih dari dua dekade sebelumnya, salah satu bagian awal perjalanan profesional Lea justru dijalani sebagai penyanyi latar bagi Chrisye.
Atas karya-karyanya, Lea meraih AMI Awards untuk kategori Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Nasrani Terbaik, serta memperoleh nominasi dalam kategori Artis Jazz Vokal Terbaik.

Kecintaannya pada dunia teater musikal membawanya memerankan peran-peran utama dalam sejumlah produksi besar: Phantom of The Opera (2001), West Side Story (2002), Musikal Laskar Pelangi (2010 & 2012), Into The Woods (2018), Hairspray The Musical (2019), Musikal Cek Toko Sebelah (2022), Pulang Kampung (film musikal, 2026), serta Broadway Musical The Sound of Music yang akan datang pada Januari 2027.
Di luar panggung, Lea juga sangat passionate dalam membina para penyanyi muda, dengan menginisiasi dan membentuk The Singer’s Table — sebuah wadah bagi para penyanyi untuk berkumpul, saling mendukung, berbagi informasi, membangun pola pikir yang smart, sekaligus membangun jaringan sesama penyanyi.
Lea juga aktif memimpin sebuah team untuk vocal coaching. Lea rajin membuat kegiatan vocal workshop baik untuk penyanyi profesional, maupun pemula. Coach2 vokal yg berada dalam team Lea terdiri dari bukan hanya guru, namun juga praktisi, seperti para penyanyi backing vocal dan juga vocal director.
(SPR)
.https://youtu.be/pbERtBB9_AQ?si=X-LWPO8rvz9b_DBR

